HAPPY NEW YEAR 2015!
udah lewat banget dan keterlaluan telatnya, sementara ini sudah tanggal 2 Juni 2015 mendekati pertengahan tahun.
Tahun 2015 ini FANTASTIS
Banyak kejadian yang dari awal tahun sudah sangat menggembirakan untuk saya ceritakan. Mulai dari pengalaman mengikuti ILFRIP batch 8 di Bangkok Februari lalu. Hingga akhirnya mendapatkan hatinya (WAHAHAHA), sebut saja AAK.
Sebelum menceritakan hal yang indah, sekarang ini saya berada dalam masa pasca-putus sama dia. Jujur saya masih sayang banget. Bahkan seberusaha apapun mencari pelarian, tetap saja kembali padanya.
Selasa, 02 Juni 2015
Kamis, 27 November 2014
Kamis, 13 November 2014
PROBABILITAS :KUANTUM ?
Mengutip dari blog http://sainstory.wordpress.com/2010/12/05/mengenal-teori-quantum/
"Saya adalah seorang determinis (penganut kepastian), dipaksa bertindak seolah-olah terdapat kehendak bebas, sebab jika saya ingin hidup dalam sebuah masyarakat beradab, saya harus bertindak secara bertanggung jawab. Saya tahu secara filosofis seorang pembunuh tidak bertanggung jawab atas kejahatannya, tapi saya tidak akan minum teh bersamanya. Karir saya telah ditentukan oleh berbagai gaya yang saya tidak punya kuasa atasnya, terutama kelenjar-kelenjar misterius itu di mana alam mempersiapkan esensi kehidupan. Henry Ford boleh menyebutnya Suara Batin, Socrates menyebutnya sebagai daemon (entitas supernatural dalam ajaran Yunani kuno–penj): tiap manusia menjelaskan fakta dengan caranya sendiri bahwa kehendak manusia tidaklah bebas…Segala sesuatu itu ditetapkan…oleh gaya-gaya yang kita tak punya kuasa atasnya…pun bagi serangga dan bintang. Manusia, sayuran, atau debu kosmik, kita semua berdansa menurut tempo misterius, dilagukan di kejauhan oleh satu pemain tak nampak. (Albert Einstein)"
Kamis, 23 Oktober 2014
RAIN
Created using PAINT and photos from http://fc03.deviantart.net/fs70/i/2013/208/8/e/rain_drops_wallpaper_ii_by_ssgtsyms-d6dc4b7.jpg
Sekilas Pemikiran
PERBEDAAN
Apakah
kita memang diciptakan berbeda satu sama lain di dunia ini?
Kendati
kita semua pada dasarnya merupakan manusia yang sama, jurang pemisah antara
individu semakin terasa dalam. Fenomena ini sering saya temukan dalam kehidupan
sehari-hari. Tidak perlu melihat yang jauh antara stratifikasi pada aspek
lapisan tertentu, dalam pergaulan saja kita cenderung untuk selektif dalam
berteman. Entah memilih dari sisi apa, terkadang saya pun cenderung seperti
itu.
Seakan
terhanyut dengan arus kehidupan yang materialistik, mekanistik dan mungkin
over-humanistik, kita berusaha untuk memanusiakan manusia tetapi lupa untuk
mengenali apa itu manusia sendiri. Berbagai media, sarana-prasarana serta
kecanggihan ilmu seakan menjadikan kita sebagai budak subjek dan objek tanpa
memandang arti lebih jauh ke dalam. Manusia lupa untuk menggunakan hati
nuraninya akan makna sebuah kehidupan, terlampau sibuk menyelami lautan tak
berujung.
Saya
sendiri beberapa hari ini merasa cukup gila karena ikut mengejar lautan tak berujung.
Antara realita, ambisi, kemampuan dan keinginan. Mereka saling berkaitan erat
satu sama lain, namun diam-diam dapat saling melukai. Bicara soal mimpi, saya
memiliki sebuah impian dalam waktu dekat ini. Merasakan adanya kenikmatan batin
saat melakukan perform musik baik
bersama band maupun solo vokal. Ada
semacam dorongan yang meminta saya untuk terus melakukannya, bukan sekedar
perkara menang kalah atau penghargaan. Saya hanya menyukai euphoria saat terbawa alunan musik, “nge-fly” bersama diatas pangggung.
Mungkin dengan sedikit zat adiktif atau psikotropika akan lebih mudah untuk mendapatkan
“sensasi” tersebut daripada secara nyata mesti manggung. Tapi mungkin tidak
akan saya lakukan.
Laki-laki
adalah kelemahan perempuan, begitupun sebaliknya. Tren masa kini membuat hampir
sebagian besar remaja maupun yang tua merasakan gejala “galau”. Perasaan tidak
menentu yang membuat kita terus kepikiran akan sesutau yang tak pasti.
Sejujurnya saya kurang menyukai keadaan ini. Hidup itu punya banyak warna,
tidak seharusnya hanya kita warnai dengan kelabu. Sayang “efek pengkodisionalan”
masa kini telah meng-setting kita
untuk tinggal pada nuansa tersebut. Kata pepatah “tak akan lari gunung dikejar”
mungkin dapat menjadi jawaban. Mungkin kita dapat belajar untuk tidak terlalu
“hopeless-romantic” mengejar cinta. Sebab beliau juga tidak akan lari dari
kehidupan secara harafiah, lari dari kita ya bisa jadi karena takut.
Orang
jaman sekarang cenderung egois.
Tidak
mau menghargai perbedaan.
Cuek.
Suka
seenaknya sendiri.
Itulah
beberapa anggapan dari kita yang sering terlontar dalam percakapan sehari-hari.
Bisa dikatakan manusia masa kini terlihat kurang baik dalam berperilaku. Tetapi
sebenarnya sejauh apakah kita dapat menghakimi perilaku seseorang?
Melalui
suatu ilmu yang dikatakan dapat mengetahui perilaku manusia?
Melalui
ajaran dogmatis tertentu?
Melalui
pemikiran kita sendiri?
Kata
orang lain?
Bukankah
hanya Tuhan yang tau keadilan baik-buruk sesungguhnya? Kita manusia senang
melempar kata sembarangan dari mulut tanpa benar-benar memperdulikan akibatnya.
Kita
senang membeda-bedakan satu sama lain tanpa berpikir lebih jauh. Lain dikata,
lain di hati, berbeda pula dalam perbuatan.
Perbedaan.
Laki-laki
dan perempuan itu sudah jelas berbeda. Ketika menemukan suatu ketidaksamaan, ya
harap dimaklumi. Wong memang beda.
Namun cobalah untuk saling mengerti. Perbedaan itu bukan alasan negatif untuk
membenarkan suatu kesalahan. Dan untuk masalah persamaan hak dan kewajiban,
pada era semaju ini sudah tidak saatnya lagi saling mengadu domba.
Sudah
saatnya kita tidak lagi memandang “beda” antara aku, kamu, dia, beliau, kau,
mereka ataupun kita. Hakikatnya kita adalah sama. Manusia yang satu. Yang
diciptakan Sang Pencipta yang sama. Untuk apa saling mencaci dan mencerca?
Perbedaan itu memang nyata dan akan selalu ada. Tetapi bukan untuk dijadikan
sebagai “kambing hitam” pada segala aspek kehidupan. Lihatlah segala seuatu
dari berbagai aspek hingga sisi-sisi kedalaman yang tidak terselami. Kita tidak
akan pernah bisa berdiri sendiri tanpa orang lain.
Tataplah
dalam-dalam kepada mata setiap insan pada saat kau bertemu dan berinteraksi
dengannya. Apakah benar kita jauh berbeda? Apakah hanya karena pelapisan yang
saya tidak tau sedang anda pikirkan, tetapi apakah kita benar-benar berbeda? Apakah
karena kulit tipis perbedaan fisik, ras, suku dan agama yang memisahkan kita? Cobalah
untuk memahami dan belajar menggunakan hati. Bukan lalu menjadi makhluk lemah
yang minta dikasihani, sebaliknya kasihilah orang lain. Sesamamu. Seperti kamu
mengasihi dirimu sendiri. Sebab kita adalah sama.
Senin, 29 September 2014
MUSIC, LOVE, LIFE
Saat ini saya sedang berada di lab statistik di fakltas saya. Setelah sejak beberapa jam lalu browsing musik, entah terpikir untuk melakukan sesuatu yang produktif, salah satunya dengan menulis postingan ini.
Soal hidup, saya mulai terbiasa untuk menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Berusaha untuk tidak lagi memaksakan keegoisan saya, dan cukup menjalani kewajiban dengan sebaik-baiknya. Dan berharap bahwa Tuhan akan memberikan kejutan yang jauh lebih baik dari yang saya harapkan. Walaupun terkadang terasa berat, namun saya percaya ini adalah hal yang baik.
Mengenai cinta, setiap orang pasti pernah merasakan cinta. Baik dari orangtua, anak, pasangan, teman, makhluk hidup lain. Setelah sekian tahun berusaha untuk menyukai, saya tersadar apa cinta itu. Kemarin sempat melihat postingan pm teman saya di bbm, yang pada intinya, saat kita mencintai maka kita akan menjadi lebih bertoleransi terhadap sesama dan diri sendiri.
Ingin sekali saya dan band saya mengikuti ajang kompetisi, namun waktu belum tepat. Terkadang saya merasa lelah harus terus menjadi sosok yang mengejar mereka. Apakah hanya saya yang punya inisiatif?
Saya belajar bahwa dalam hidup, hidup itulah sendiri yang harus kita jalani. Seringkali kita terjebak dalam perjuangan kerasnya hidup atau berpasrah dengan galau. Tuhan, pencipta kita sudah mengatur hidup kita sedemikian rupa dengan indah. Bukanlah indah jika kita menjalani hidup dengan melakukan segala seuatunya sebaik-baiknya dan menyerahkan semuanya kepada-Nya. Jika memang itu yang dikehendaki-Nya, maka ia akan memberikannya kepada kita. Sebab kita manusia hanyalah makhluk fana yang selalu berusaha terlihat nyata.
Soal hidup, saya mulai terbiasa untuk menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Berusaha untuk tidak lagi memaksakan keegoisan saya, dan cukup menjalani kewajiban dengan sebaik-baiknya. Dan berharap bahwa Tuhan akan memberikan kejutan yang jauh lebih baik dari yang saya harapkan. Walaupun terkadang terasa berat, namun saya percaya ini adalah hal yang baik.
Mengenai cinta, setiap orang pasti pernah merasakan cinta. Baik dari orangtua, anak, pasangan, teman, makhluk hidup lain. Setelah sekian tahun berusaha untuk menyukai, saya tersadar apa cinta itu. Kemarin sempat melihat postingan pm teman saya di bbm, yang pada intinya, saat kita mencintai maka kita akan menjadi lebih bertoleransi terhadap sesama dan diri sendiri.
Ingin sekali saya dan band saya mengikuti ajang kompetisi, namun waktu belum tepat. Terkadang saya merasa lelah harus terus menjadi sosok yang mengejar mereka. Apakah hanya saya yang punya inisiatif?
Saya belajar bahwa dalam hidup, hidup itulah sendiri yang harus kita jalani. Seringkali kita terjebak dalam perjuangan kerasnya hidup atau berpasrah dengan galau. Tuhan, pencipta kita sudah mengatur hidup kita sedemikian rupa dengan indah. Bukanlah indah jika kita menjalani hidup dengan melakukan segala seuatunya sebaik-baiknya dan menyerahkan semuanya kepada-Nya. Jika memang itu yang dikehendaki-Nya, maka ia akan memberikannya kepada kita. Sebab kita manusia hanyalah makhluk fana yang selalu berusaha terlihat nyata.
Kamis, 21 Agustus 2014
KEHARUSAN
Keharusan
Selasa, 19 agustus 2014
16:00-16:47
Harus
berarti wajib dilakukan atau dengan kata lain tidak ada pilihan selain memang
dilakukan.
Suatu
sore menjelang senja saya sedang mati kebosanan di dalam mobil. Bibir saya
pecah-pecah sampai berdarah, oke itu hanya selingan. Pada intinya saya kesal.
Apakah memang dalam hidup ini kita harus melakukan sesuatu?
Disini
saya ingin mengambil arti yaitu keharusan dalam melakukan sesuatu pada
idealisme. Pola kehidupan masyarakat moderen menuntut kita menuruti persepsi
kehidupan ideal yang digambarkan. Estetika, baik itu fisik maupun penampilan,
kekayaan dan keberhasilan mendorong manusia berlomba-lomba meraih yang
terbaik.
Tetapi
apakah itu merupakah suatu keharusan?
Apakah kita harus melakukannya demi
mencapai gambaran 'ideal' tersebut?
Saya
ragu
Harus?
Diusia
ke duapuluh tahun ini merupakan gerbang awal menuju kedewasaan. Mungkin secara
umur saya sudah cukup tua, namun dari sisi psikologis dan tanggung jawab masih
sering dianggap seperti anak kecil.
Banyak
orang yang menggantungkan berbagai ekspektasi kepada saya. Dari tinggi hingga
rendah yang secara tidak langsung mengharuskan untuk dihadapi. Sekali lagi saya
bertanya, HARUSKAH?
Secara
logika suatu angka jika dijumlahkan akan menghasilkan angka yang lebih besar
lagi, terkecuali jika angka itu minus. Jika kita melakukan sesuatu yang
seharusnya dan kita lakukan terus maka akan bertambah pula sesuatu itu. Kata
orang, semakin banyak pengalaman maka semakin bagus. Baik maupun buruk.
Tetapi
apakah dalam hidup HARUS begitu?
Saya
rasa ada suatu misteri yang bahkan orang terjenius maupun tereligius sekalipun
tidak akan dapat memberikan jawaban secara konkrit. Sebab kita manusia tidak
akan pernah mengetahui pasti hidup kita akan seperti apa. Yang kita tau pasti perubahan bersifat konstan. Segala
sesuatu pasti berubah, itu yang pasti. Bukan merupakan keharusan, tetapi pasti
berubah tanpa siapapun berhak untuk mengharuskannya.
Yang
saya takutkan kini apakah dengan melakukan KEHARUSAN
maka hidup saya akan terjamin dengan baik?
Atau
saya memilih untuk berpasrah atau lari dari ekspektasi orang lain?
Bukankah
berat jika nanti hidup memutarbalikkan ekspektasi saya sendiri ditambah
cemoohan dari orang lain? Ya, saya tau sih mereka berani amat ngomong tanpa tau
situasi saya yang sebenarnya. Tapi begitulah hidup.
Hidup
merupakan suatu keharusan yang kita sendiripun tidak bisa mempertanyakan
sebenarnya siapa, apa, bagaimana, dimana, kapan-KAH KEHARUSAN itu sendiri.
Ternyata
kekesalan dan kekecewan masalah pribadi saya bisa berbuah menjadi sebuah
tulisan indah ini. Good job buat otak saya haha.
Langganan:
Postingan (Atom)

