Selasa, 02 Juni 2015

HELO 2015 (TOO LATE NIN!)

HAPPY NEW YEAR 2015!
udah lewat banget dan keterlaluan telatnya, sementara ini sudah tanggal 2 Juni 2015 mendekati pertengahan tahun.

Tahun 2015 ini FANTASTIS

Banyak kejadian yang dari awal tahun sudah sangat menggembirakan untuk saya ceritakan. Mulai dari pengalaman mengikuti ILFRIP batch 8 di Bangkok Februari lalu. Hingga akhirnya mendapatkan hatinya (WAHAHAHA), sebut saja AAK.

Sebelum menceritakan hal yang indah, sekarang ini saya berada dalam masa pasca-putus sama dia. Jujur saya masih sayang banget. Bahkan seberusaha apapun mencari pelarian, tetap saja kembali padanya.

Kamis, 13 November 2014

PROBABILITAS :KUANTUM ?

Mengutip dari blog http://sainstory.wordpress.com/2010/12/05/mengenal-teori-quantum/

"Saya adalah seorang determinis (penganut kepastian), dipaksa bertindak seolah-olah terdapat kehendak bebas, sebab jika saya ingin hidup dalam sebuah masyarakat beradab, saya harus bertindak secara bertanggung jawab. Saya tahu secara filosofis seorang pembunuh tidak bertanggung jawab atas kejahatannya, tapi saya tidak akan minum teh bersamanya. Karir saya telah ditentukan oleh berbagai gaya yang saya tidak punya kuasa atasnya, terutama kelenjar-kelenjar misterius itu di mana alam mempersiapkan esensi kehidupan. Henry Ford boleh menyebutnya Suara Batin, Socrates menyebutnya sebagai daemon (entitas supernatural dalam ajaran Yunani kuno–penj): tiap manusia menjelaskan fakta dengan caranya sendiri bahwa kehendak manusia tidaklah bebas…Segala sesuatu itu ditetapkan…oleh gaya-gaya yang kita tak punya kuasa atasnya…pun bagi serangga dan bintang. Manusia, sayuran, atau debu kosmik, kita semua berdansa menurut tempo misterius, dilagukan di kejauhan oleh satu pemain tak nampak. (Albert Einstein)"

Kamis, 23 Oktober 2014

RAIN


Created using PAINT and photos from http://fc03.deviantart.net/fs70/i/2013/208/8/e/rain_drops_wallpaper_ii_by_ssgtsyms-d6dc4b7.jpg

Sekilas Pemikiran

PERBEDAAN

Apakah kita memang diciptakan berbeda satu sama lain di dunia ini?
Kendati kita semua pada dasarnya merupakan manusia yang sama, jurang pemisah antara individu semakin terasa dalam. Fenomena ini sering saya temukan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak perlu melihat yang jauh antara stratifikasi pada aspek lapisan tertentu, dalam pergaulan saja kita cenderung untuk selektif dalam berteman. Entah memilih dari sisi apa, terkadang saya pun cenderung seperti itu.

Seakan terhanyut dengan arus kehidupan yang materialistik, mekanistik dan mungkin over-humanistik, kita berusaha untuk memanusiakan manusia tetapi lupa untuk mengenali apa itu manusia sendiri. Berbagai media, sarana-prasarana serta kecanggihan ilmu seakan menjadikan kita sebagai budak subjek dan objek tanpa memandang arti lebih jauh ke dalam. Manusia lupa untuk menggunakan hati nuraninya akan makna sebuah kehidupan, terlampau sibuk menyelami lautan tak berujung.

Saya sendiri beberapa hari ini merasa cukup gila karena ikut mengejar lautan tak berujung. Antara realita, ambisi, kemampuan dan keinginan. Mereka saling berkaitan erat satu sama lain, namun diam-diam dapat saling melukai. Bicara soal mimpi, saya memiliki sebuah impian dalam waktu dekat ini. Merasakan adanya kenikmatan batin saat melakukan perform musik baik bersama band maupun solo vokal. Ada semacam dorongan yang meminta saya untuk terus melakukannya, bukan sekedar perkara menang kalah atau penghargaan. Saya hanya menyukai euphoria saat terbawa alunan musik, “nge-fly” bersama diatas pangggung. Mungkin dengan sedikit zat adiktif atau psikotropika akan lebih mudah untuk mendapatkan “sensasi” tersebut daripada secara nyata mesti manggung. Tapi mungkin tidak akan saya lakukan.

Laki-laki adalah kelemahan perempuan, begitupun sebaliknya. Tren masa kini membuat hampir sebagian besar remaja maupun yang tua merasakan gejala “galau”. Perasaan tidak menentu yang membuat kita terus kepikiran akan sesutau yang tak pasti. Sejujurnya saya kurang menyukai keadaan ini. Hidup itu punya banyak warna, tidak seharusnya hanya kita warnai dengan kelabu. Sayang “efek pengkodisionalan” masa kini telah meng-setting kita untuk tinggal pada nuansa tersebut. Kata pepatah “tak akan lari gunung dikejar” mungkin dapat menjadi jawaban. Mungkin kita dapat belajar untuk tidak terlalu “hopeless-romantic” mengejar cinta. Sebab beliau juga tidak akan lari dari kehidupan secara harafiah, lari dari kita ya bisa jadi karena takut.

Orang jaman sekarang cenderung egois.
Tidak mau menghargai perbedaan.
Cuek.
Suka seenaknya sendiri.
Itulah beberapa anggapan dari kita yang sering terlontar dalam percakapan sehari-hari. Bisa dikatakan manusia masa kini terlihat kurang baik dalam berperilaku. Tetapi sebenarnya sejauh apakah kita dapat menghakimi perilaku seseorang?
Melalui suatu ilmu yang dikatakan dapat mengetahui perilaku manusia?
Melalui ajaran dogmatis tertentu?
Melalui pemikiran kita sendiri?
Kata orang lain?
Bukankah hanya Tuhan yang tau keadilan baik-buruk sesungguhnya? Kita manusia senang melempar kata sembarangan dari mulut tanpa benar-benar memperdulikan akibatnya.

Kita senang membeda-bedakan satu sama lain tanpa berpikir lebih jauh. Lain dikata, lain di hati, berbeda pula dalam perbuatan.

Perbedaan.
Laki-laki dan perempuan itu sudah jelas berbeda. Ketika menemukan suatu ketidaksamaan, ya harap dimaklumi. Wong memang beda. Namun cobalah untuk saling mengerti. Perbedaan itu bukan alasan negatif untuk membenarkan suatu kesalahan. Dan untuk masalah persamaan hak dan kewajiban, pada era semaju ini sudah tidak saatnya lagi saling mengadu domba.

Sudah saatnya kita tidak lagi memandang “beda” antara aku, kamu, dia, beliau, kau, mereka ataupun kita. Hakikatnya kita adalah sama. Manusia yang satu. Yang diciptakan Sang Pencipta yang sama. Untuk apa saling mencaci dan mencerca? Perbedaan itu memang nyata dan akan selalu ada. Tetapi bukan untuk dijadikan sebagai “kambing hitam” pada segala aspek kehidupan. Lihatlah segala seuatu dari berbagai aspek hingga sisi-sisi kedalaman yang tidak terselami. Kita tidak akan pernah bisa berdiri sendiri tanpa orang lain.


Tataplah dalam-dalam kepada mata setiap insan pada saat kau bertemu dan berinteraksi dengannya. Apakah benar kita jauh berbeda? Apakah hanya karena pelapisan yang saya tidak tau sedang anda pikirkan, tetapi apakah kita benar-benar berbeda? Apakah karena kulit tipis perbedaan fisik, ras, suku dan agama yang memisahkan kita? Cobalah untuk memahami dan belajar menggunakan hati. Bukan lalu menjadi makhluk lemah yang minta dikasihani, sebaliknya kasihilah orang lain. Sesamamu. Seperti kamu mengasihi dirimu sendiri. Sebab kita adalah sama.

Senin, 29 September 2014

MUSIC, LOVE, LIFE

Saat ini saya sedang berada di lab statistik di fakltas saya. Setelah sejak beberapa jam lalu browsing musik, entah terpikir untuk melakukan sesuatu yang produktif, salah satunya dengan menulis postingan ini.

Soal hidup, saya mulai terbiasa untuk menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Berusaha untuk tidak lagi memaksakan keegoisan saya, dan cukup menjalani kewajiban dengan sebaik-baiknya. Dan berharap bahwa Tuhan akan memberikan kejutan yang jauh lebih baik dari yang saya harapkan. Walaupun terkadang terasa berat, namun saya percaya ini adalah hal yang baik.

Mengenai cinta, setiap orang pasti pernah merasakan cinta. Baik dari orangtua, anak, pasangan, teman, makhluk hidup lain. Setelah sekian tahun berusaha untuk menyukai, saya tersadar apa cinta itu. Kemarin sempat melihat postingan pm teman saya di bbm, yang pada intinya, saat kita mencintai maka kita akan menjadi lebih bertoleransi terhadap sesama dan diri sendiri.

Ingin sekali saya dan band saya mengikuti ajang kompetisi, namun waktu belum tepat. Terkadang saya merasa lelah harus terus menjadi sosok yang mengejar mereka. Apakah hanya saya yang punya inisiatif?

Saya belajar bahwa dalam hidup, hidup itulah sendiri yang harus kita jalani. Seringkali kita terjebak dalam perjuangan kerasnya hidup atau berpasrah dengan galau. Tuhan, pencipta kita sudah mengatur hidup kita sedemikian rupa dengan indah. Bukanlah indah jika kita menjalani hidup dengan melakukan segala seuatunya sebaik-baiknya dan menyerahkan semuanya kepada-Nya. Jika memang itu yang dikehendaki-Nya, maka ia akan memberikannya kepada kita. Sebab kita manusia hanyalah makhluk fana yang selalu berusaha terlihat nyata.

Kamis, 21 Agustus 2014

KEHARUSAN

Keharusan

Selasa, 19 agustus 2014
16:00-16:47



Harus berarti wajib dilakukan atau dengan kata lain tidak ada pilihan selain memang dilakukan.
Suatu sore menjelang senja saya sedang mati kebosanan di dalam mobil. Bibir saya pecah-pecah sampai berdarah, oke itu hanya selingan. Pada intinya saya kesal. Apakah memang dalam hidup ini kita harus melakukan sesuatu?

Disini saya ingin mengambil arti yaitu keharusan dalam melakukan sesuatu pada idealisme. Pola kehidupan masyarakat moderen menuntut kita menuruti persepsi kehidupan ideal yang digambarkan. Estetika, baik itu fisik maupun penampilan, kekayaan dan keberhasilan mendorong manusia berlomba-lomba meraih yang terbaik. 

Tetapi apakah itu merupakah suatu keharusan?
Apakah kita harus melakukannya demi mencapai gambaran 'ideal' tersebut?
Saya ragu
Harus?

Diusia ke duapuluh tahun ini merupakan gerbang awal menuju kedewasaan. Mungkin secara umur saya sudah cukup tua, namun dari sisi psikologis dan tanggung jawab masih sering dianggap seperti anak kecil.
Banyak orang yang menggantungkan berbagai ekspektasi kepada saya. Dari tinggi hingga rendah yang secara tidak langsung mengharuskan untuk dihadapi. Sekali lagi saya bertanya, HARUSKAH?

Secara logika suatu angka jika dijumlahkan akan menghasilkan angka yang lebih besar lagi, terkecuali jika angka itu minus. Jika kita melakukan sesuatu yang seharusnya dan kita lakukan terus maka akan bertambah pula sesuatu itu. Kata orang, semakin banyak pengalaman maka semakin bagus. Baik maupun buruk.
Tetapi apakah dalam hidup HARUS begitu?

Saya rasa ada suatu misteri yang bahkan orang terjenius maupun tereligius sekalipun tidak akan dapat memberikan jawaban secara konkrit. Sebab kita manusia tidak akan pernah mengetahui pasti hidup kita akan seperti apa. Yang kita tau pasti perubahan bersifat konstan. Segala sesuatu pasti berubah, itu yang pasti. Bukan merupakan keharusan, tetapi pasti berubah tanpa siapapun berhak untuk mengharuskannya.

Yang saya takutkan kini apakah dengan melakukan KEHARUSAN maka hidup saya akan terjamin dengan baik?
Atau saya memilih untuk berpasrah atau lari dari ekspektasi orang lain?
Bukankah berat jika nanti hidup memutarbalikkan ekspektasi saya sendiri ditambah cemoohan dari orang lain? Ya, saya tau sih mereka berani amat ngomong tanpa tau situasi saya yang sebenarnya. Tapi begitulah hidup.

Hidup merupakan suatu keharusan yang kita sendiripun tidak bisa mempertanyakan sebenarnya siapa, apa, bagaimana, dimana, kapan-KAH KEHARUSAN itu sendiri.

Ternyata kekesalan dan kekecewan masalah pribadi saya bisa berbuah menjadi sebuah tulisan indah ini. Good job buat otak saya haha.