"Saya adalah seorang determinis (penganut kepastian), dipaksa bertindak seolah-olah terdapat kehendak bebas, sebab jika saya ingin hidup dalam sebuah masyarakat beradab, saya harus bertindak secara bertanggung jawab. Saya tahu secara filosofis seorang pembunuh tidak bertanggung jawab atas kejahatannya, tapi saya tidak akan minum teh bersamanya. Karir saya telah ditentukan oleh berbagai gaya yang saya tidak punya kuasa atasnya, terutama kelenjar-kelenjar misterius itu di mana alam mempersiapkan esensi kehidupan. Henry Ford boleh menyebutnya Suara Batin, Socrates menyebutnya sebagai daemon (entitas supernatural dalam ajaran Yunani kuno–penj): tiap manusia menjelaskan fakta dengan caranya sendiri bahwa kehendak manusia tidaklah bebas…Segala sesuatu itu ditetapkan…oleh gaya-gaya yang kita tak punya kuasa atasnya…pun bagi serangga dan bintang. Manusia, sayuran, atau debu kosmik, kita semua berdansa menurut tempo misterius, dilagukan di kejauhan oleh satu pemain tak nampak. (Albert Einstein)"
Tampilkan postingan dengan label REFLEKSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REFLEKSI. Tampilkan semua postingan
Kamis, 13 November 2014
PROBABILITAS :KUANTUM ?
Mengutip dari blog http://sainstory.wordpress.com/2010/12/05/mengenal-teori-quantum/
Kamis, 23 Oktober 2014
Sekilas Pemikiran
PERBEDAAN
Apakah
kita memang diciptakan berbeda satu sama lain di dunia ini?
Kendati
kita semua pada dasarnya merupakan manusia yang sama, jurang pemisah antara
individu semakin terasa dalam. Fenomena ini sering saya temukan dalam kehidupan
sehari-hari. Tidak perlu melihat yang jauh antara stratifikasi pada aspek
lapisan tertentu, dalam pergaulan saja kita cenderung untuk selektif dalam
berteman. Entah memilih dari sisi apa, terkadang saya pun cenderung seperti
itu.
Seakan
terhanyut dengan arus kehidupan yang materialistik, mekanistik dan mungkin
over-humanistik, kita berusaha untuk memanusiakan manusia tetapi lupa untuk
mengenali apa itu manusia sendiri. Berbagai media, sarana-prasarana serta
kecanggihan ilmu seakan menjadikan kita sebagai budak subjek dan objek tanpa
memandang arti lebih jauh ke dalam. Manusia lupa untuk menggunakan hati
nuraninya akan makna sebuah kehidupan, terlampau sibuk menyelami lautan tak
berujung.
Saya
sendiri beberapa hari ini merasa cukup gila karena ikut mengejar lautan tak berujung.
Antara realita, ambisi, kemampuan dan keinginan. Mereka saling berkaitan erat
satu sama lain, namun diam-diam dapat saling melukai. Bicara soal mimpi, saya
memiliki sebuah impian dalam waktu dekat ini. Merasakan adanya kenikmatan batin
saat melakukan perform musik baik
bersama band maupun solo vokal. Ada
semacam dorongan yang meminta saya untuk terus melakukannya, bukan sekedar
perkara menang kalah atau penghargaan. Saya hanya menyukai euphoria saat terbawa alunan musik, “nge-fly” bersama diatas pangggung.
Mungkin dengan sedikit zat adiktif atau psikotropika akan lebih mudah untuk mendapatkan
“sensasi” tersebut daripada secara nyata mesti manggung. Tapi mungkin tidak
akan saya lakukan.
Laki-laki
adalah kelemahan perempuan, begitupun sebaliknya. Tren masa kini membuat hampir
sebagian besar remaja maupun yang tua merasakan gejala “galau”. Perasaan tidak
menentu yang membuat kita terus kepikiran akan sesutau yang tak pasti.
Sejujurnya saya kurang menyukai keadaan ini. Hidup itu punya banyak warna,
tidak seharusnya hanya kita warnai dengan kelabu. Sayang “efek pengkodisionalan”
masa kini telah meng-setting kita
untuk tinggal pada nuansa tersebut. Kata pepatah “tak akan lari gunung dikejar”
mungkin dapat menjadi jawaban. Mungkin kita dapat belajar untuk tidak terlalu
“hopeless-romantic” mengejar cinta. Sebab beliau juga tidak akan lari dari
kehidupan secara harafiah, lari dari kita ya bisa jadi karena takut.
Orang
jaman sekarang cenderung egois.
Tidak
mau menghargai perbedaan.
Cuek.
Suka
seenaknya sendiri.
Itulah
beberapa anggapan dari kita yang sering terlontar dalam percakapan sehari-hari.
Bisa dikatakan manusia masa kini terlihat kurang baik dalam berperilaku. Tetapi
sebenarnya sejauh apakah kita dapat menghakimi perilaku seseorang?
Melalui
suatu ilmu yang dikatakan dapat mengetahui perilaku manusia?
Melalui
ajaran dogmatis tertentu?
Melalui
pemikiran kita sendiri?
Kata
orang lain?
Bukankah
hanya Tuhan yang tau keadilan baik-buruk sesungguhnya? Kita manusia senang
melempar kata sembarangan dari mulut tanpa benar-benar memperdulikan akibatnya.
Kita
senang membeda-bedakan satu sama lain tanpa berpikir lebih jauh. Lain dikata,
lain di hati, berbeda pula dalam perbuatan.
Perbedaan.
Laki-laki
dan perempuan itu sudah jelas berbeda. Ketika menemukan suatu ketidaksamaan, ya
harap dimaklumi. Wong memang beda.
Namun cobalah untuk saling mengerti. Perbedaan itu bukan alasan negatif untuk
membenarkan suatu kesalahan. Dan untuk masalah persamaan hak dan kewajiban,
pada era semaju ini sudah tidak saatnya lagi saling mengadu domba.
Sudah
saatnya kita tidak lagi memandang “beda” antara aku, kamu, dia, beliau, kau,
mereka ataupun kita. Hakikatnya kita adalah sama. Manusia yang satu. Yang
diciptakan Sang Pencipta yang sama. Untuk apa saling mencaci dan mencerca?
Perbedaan itu memang nyata dan akan selalu ada. Tetapi bukan untuk dijadikan
sebagai “kambing hitam” pada segala aspek kehidupan. Lihatlah segala seuatu
dari berbagai aspek hingga sisi-sisi kedalaman yang tidak terselami. Kita tidak
akan pernah bisa berdiri sendiri tanpa orang lain.
Tataplah
dalam-dalam kepada mata setiap insan pada saat kau bertemu dan berinteraksi
dengannya. Apakah benar kita jauh berbeda? Apakah hanya karena pelapisan yang
saya tidak tau sedang anda pikirkan, tetapi apakah kita benar-benar berbeda? Apakah
karena kulit tipis perbedaan fisik, ras, suku dan agama yang memisahkan kita? Cobalah
untuk memahami dan belajar menggunakan hati. Bukan lalu menjadi makhluk lemah
yang minta dikasihani, sebaliknya kasihilah orang lain. Sesamamu. Seperti kamu
mengasihi dirimu sendiri. Sebab kita adalah sama.
Senin, 29 September 2014
MUSIC, LOVE, LIFE
Saat ini saya sedang berada di lab statistik di fakltas saya. Setelah sejak beberapa jam lalu browsing musik, entah terpikir untuk melakukan sesuatu yang produktif, salah satunya dengan menulis postingan ini.
Soal hidup, saya mulai terbiasa untuk menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Berusaha untuk tidak lagi memaksakan keegoisan saya, dan cukup menjalani kewajiban dengan sebaik-baiknya. Dan berharap bahwa Tuhan akan memberikan kejutan yang jauh lebih baik dari yang saya harapkan. Walaupun terkadang terasa berat, namun saya percaya ini adalah hal yang baik.
Mengenai cinta, setiap orang pasti pernah merasakan cinta. Baik dari orangtua, anak, pasangan, teman, makhluk hidup lain. Setelah sekian tahun berusaha untuk menyukai, saya tersadar apa cinta itu. Kemarin sempat melihat postingan pm teman saya di bbm, yang pada intinya, saat kita mencintai maka kita akan menjadi lebih bertoleransi terhadap sesama dan diri sendiri.
Ingin sekali saya dan band saya mengikuti ajang kompetisi, namun waktu belum tepat. Terkadang saya merasa lelah harus terus menjadi sosok yang mengejar mereka. Apakah hanya saya yang punya inisiatif?
Saya belajar bahwa dalam hidup, hidup itulah sendiri yang harus kita jalani. Seringkali kita terjebak dalam perjuangan kerasnya hidup atau berpasrah dengan galau. Tuhan, pencipta kita sudah mengatur hidup kita sedemikian rupa dengan indah. Bukanlah indah jika kita menjalani hidup dengan melakukan segala seuatunya sebaik-baiknya dan menyerahkan semuanya kepada-Nya. Jika memang itu yang dikehendaki-Nya, maka ia akan memberikannya kepada kita. Sebab kita manusia hanyalah makhluk fana yang selalu berusaha terlihat nyata.
Soal hidup, saya mulai terbiasa untuk menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Berusaha untuk tidak lagi memaksakan keegoisan saya, dan cukup menjalani kewajiban dengan sebaik-baiknya. Dan berharap bahwa Tuhan akan memberikan kejutan yang jauh lebih baik dari yang saya harapkan. Walaupun terkadang terasa berat, namun saya percaya ini adalah hal yang baik.
Mengenai cinta, setiap orang pasti pernah merasakan cinta. Baik dari orangtua, anak, pasangan, teman, makhluk hidup lain. Setelah sekian tahun berusaha untuk menyukai, saya tersadar apa cinta itu. Kemarin sempat melihat postingan pm teman saya di bbm, yang pada intinya, saat kita mencintai maka kita akan menjadi lebih bertoleransi terhadap sesama dan diri sendiri.
Ingin sekali saya dan band saya mengikuti ajang kompetisi, namun waktu belum tepat. Terkadang saya merasa lelah harus terus menjadi sosok yang mengejar mereka. Apakah hanya saya yang punya inisiatif?
Saya belajar bahwa dalam hidup, hidup itulah sendiri yang harus kita jalani. Seringkali kita terjebak dalam perjuangan kerasnya hidup atau berpasrah dengan galau. Tuhan, pencipta kita sudah mengatur hidup kita sedemikian rupa dengan indah. Bukanlah indah jika kita menjalani hidup dengan melakukan segala seuatunya sebaik-baiknya dan menyerahkan semuanya kepada-Nya. Jika memang itu yang dikehendaki-Nya, maka ia akan memberikannya kepada kita. Sebab kita manusia hanyalah makhluk fana yang selalu berusaha terlihat nyata.
Kamis, 21 Agustus 2014
KEHARUSAN
Keharusan
Selasa, 19 agustus 2014
16:00-16:47
Harus
berarti wajib dilakukan atau dengan kata lain tidak ada pilihan selain memang
dilakukan.
Suatu
sore menjelang senja saya sedang mati kebosanan di dalam mobil. Bibir saya
pecah-pecah sampai berdarah, oke itu hanya selingan. Pada intinya saya kesal.
Apakah memang dalam hidup ini kita harus melakukan sesuatu?
Disini
saya ingin mengambil arti yaitu keharusan dalam melakukan sesuatu pada
idealisme. Pola kehidupan masyarakat moderen menuntut kita menuruti persepsi
kehidupan ideal yang digambarkan. Estetika, baik itu fisik maupun penampilan,
kekayaan dan keberhasilan mendorong manusia berlomba-lomba meraih yang
terbaik.
Tetapi
apakah itu merupakah suatu keharusan?
Apakah kita harus melakukannya demi
mencapai gambaran 'ideal' tersebut?
Saya
ragu
Harus?
Diusia
ke duapuluh tahun ini merupakan gerbang awal menuju kedewasaan. Mungkin secara
umur saya sudah cukup tua, namun dari sisi psikologis dan tanggung jawab masih
sering dianggap seperti anak kecil.
Banyak
orang yang menggantungkan berbagai ekspektasi kepada saya. Dari tinggi hingga
rendah yang secara tidak langsung mengharuskan untuk dihadapi. Sekali lagi saya
bertanya, HARUSKAH?
Secara
logika suatu angka jika dijumlahkan akan menghasilkan angka yang lebih besar
lagi, terkecuali jika angka itu minus. Jika kita melakukan sesuatu yang
seharusnya dan kita lakukan terus maka akan bertambah pula sesuatu itu. Kata
orang, semakin banyak pengalaman maka semakin bagus. Baik maupun buruk.
Tetapi
apakah dalam hidup HARUS begitu?
Saya
rasa ada suatu misteri yang bahkan orang terjenius maupun tereligius sekalipun
tidak akan dapat memberikan jawaban secara konkrit. Sebab kita manusia tidak
akan pernah mengetahui pasti hidup kita akan seperti apa. Yang kita tau pasti perubahan bersifat konstan. Segala
sesuatu pasti berubah, itu yang pasti. Bukan merupakan keharusan, tetapi pasti
berubah tanpa siapapun berhak untuk mengharuskannya.
Yang
saya takutkan kini apakah dengan melakukan KEHARUSAN
maka hidup saya akan terjamin dengan baik?
Atau
saya memilih untuk berpasrah atau lari dari ekspektasi orang lain?
Bukankah
berat jika nanti hidup memutarbalikkan ekspektasi saya sendiri ditambah
cemoohan dari orang lain? Ya, saya tau sih mereka berani amat ngomong tanpa tau
situasi saya yang sebenarnya. Tapi begitulah hidup.
Hidup
merupakan suatu keharusan yang kita sendiripun tidak bisa mempertanyakan
sebenarnya siapa, apa, bagaimana, dimana, kapan-KAH KEHARUSAN itu sendiri.
Ternyata
kekesalan dan kekecewan masalah pribadi saya bisa berbuah menjadi sebuah
tulisan indah ini. Good job buat otak saya haha.
Senin, 11 Agustus 2014
HURTS
Hey! just made this quote. Trying to describe what I'm feeling now, but it's really hard to write a nice sentences nor some decent words. Almost midnight and I can't sleep.
Minggu, 27 Juli 2014
FLASHBACK
FLASHBACK
Apasih Flashback itu?
Menurut saya sendiri
"FLASHBACK" berarti memutar kembali atau mengulang kembali, entah itu
berupa suatu benda mati (karya seni film, drama, buku, dsb), perasaan, memori,
ingatan, masalah, maupun suatu bentuk kegiatan lain yang dapat di-recall kembali.
Dari hasil browsing mbah
google :
kilas
balik
n 1: transisi (dalam karya sastra atau sandiwara atau film) untuk
sebelumnya acara atau pemandangan yang interrupts normal
kronologis perkembangan cerita [ant: (flash-forward)]
2: hidup yang tidak diharapkan tetapi perulangan dari pengalaman masa lalu
(khususnya yang kambuh dari efek yang
obat hallucinogenic diambil banyak sebelumnya)
n 1: transisi (dalam karya sastra atau sandiwara atau film) untuk
sebelumnya acara atau pemandangan yang interrupts normal
kronologis perkembangan cerita [ant: (flash-forward)]
2: hidup yang tidak diharapkan tetapi perulangan dari pengalaman masa lalu
(khususnya yang kambuh dari efek yang
obat hallucinogenic diambil banyak sebelumnya)
[N]
(Memori): fakultas (): memori, ingatan, kenangan,
pengakuan, ingatan, kambuh, kilas balik, kembali,
retrospeksi.
pengakuan, ingatan, kambuh, kilas balik, kembali,
retrospeksi.
Saya mencoba untuk melakukan
kilas balik atau "FLASHBACK" secara pribadi. Akhir-akhir ini saya
sering merasa kesepian. Berbeda dengan kesendirian, tidak sendirian
seperti kelebai-an di film-film. Mungkin hanya perasaan saja atau
entahlah.
Dunia perkuliahan
semester ini sangat menyita waktu para mahasiswa angkatan 2012 di fakultas
saya. Tugas-tugas menumpuk, kegiatan diluar akademik seperti kepanitiaan, libur
yang terjepit (tentunya dimanfaatkan untuk pulang kampung) dan transisi
perubahan menuju mahasiswa tingkat atas. Hampir semua anak asik bergumul dengan
kesibukan itu, namun ada juga yang terjebak atau tersesat, maupun kabur dari
rutinitas itu. Kabur untuk selamanya dan bisa saja bertemu lagi di semester
depan. HAHA.
Saya sendiri akhirnya
menyadari apa yang saya inginkan dalam hidup. Disisi lain tidak dapat begitu
saja kabur meninggalkan realitas. Konflik batin membuat saya ingin menarik diri
dari semuanya, semua hal. Kesepian dan kesendirian sering mewarnai kehidupan
pada semester 4 ini. Mungkin trauma akan trust issues terhadap
beberapa oknum mendoktrin otak saya dengan tegas berkata "CUKUP TAU".
Menimbulkan ketakutan untuk kembali percaya setelah datangnya
kekecewaan-kekecewaan itu.
Sejak kecil, kehidupan
membawa saya untuk selalu menjadi “petualang”. Seringnya berpindah tempat serta
ketidakmampuan untuk memilih sesuatu membentuk karakter saya hingga sekarang.
Sebenarnya saya adalah seorang planner sejati, akan tetapi
realita seringkali memutarbalikkan harapan. Jadi ya, mohon harap maklum dengan
kecuekan atau keapatisan saya.
Hari minggu ini terjadilah sebuah keajaiban, seakan-akan
telah menjawab semua pertanyaan keraguan saya. Sepertinya Tuhan telah menjawab
doa sang pertapa dengan seribu kebajikan dan kebijaksanaan. “Hidup itu seperti
berjalan diatas seutas tali.” Disisi lain kita harus terus melangkah ke depan
jika ingin maju, tetapi disisi lain kita juga harus bisa membuang keegoisan
kita agar tidak terjatuh. “Ikhlas untuk berubah”. Kita berjalan pada tali yang
masing-masing individu pun berbeda, tetapi kita saling bergandengan dengan
orang lain di tali-tali lain. Semuanya itu tidak hanya tentang diri kita
sendiri, tetapi bagaimana posisi kita dengan orang lain. Kita ini Zool Politicon, ya makhluk sosial.
Kita bukanlah manusia yang sempurna. Kesempurnaan
hanya milik Tuhan. Maka sudah sewajarnya kita pasti akan berbuat salah kok.
Saya belajar bahwa untuk melanjutkan hidup kita itu berarti juga melanjutkan hidup untuk orang
lain. Bukalah diri kita sebebas mungkin, baik secara pemikiran, tindakan, atau
pun perasaan. Jangan sampai kita terjebak dengan ‘pemikiran kolot’. Teruslah
berusaha untuk menjaga keseimbangan antara diri sendiri dengan sesama. Luangkanlah
waktu untuk “mem-flashback” setiap kejadian yang terjadi. Jadikanlah sebuah
pembelajaran, baik buruknya, susah-senangnya, pahit-manisnya agar kelak kita
tak perlu mengeryutkan kening(MENYESAL) saat nanti melakukan “FLASHBACK”.
Salam,
Nindy a.k.a Nino
PUSTAKA
http://id.w3dictionary.org/index.php?q=flashback
Senin, 12 Mei 2014
TAKE A LOOK CLOSER
Take a look closer
Take a look closer, won't you?
See me through the rain
Wait for a sun to shine
Come to see me now
Come to see me now
I've got a smile for a new life
Wait until you come
They say "Life it's hard, die is easy"
I know
But If I'm with you, my life would be different
I know
Faraway from the beginning
Our state of love
Like a dreams, it happens so fast
What are we become?
At this time, I don't know what is really going on. I tried the best I can do to fix everything, but I can't. I'm only human.
For the best, I must do what I should do. Getting done my assignments. But my heart cannot be bruised anymore. Tired to live like this. My soul was high, driven by intuition. All I really want is just thinking and doing art and music things everyday. I don't like this kind of situation right now. So frustated til I don't have any words to decribe it.
Not just pretty tiring, but I was teared and broke.
Tears, Nino
Minggu, 20 April 2014
EMMA WATSON
Just browsed recently about her. Love the way she thoughts, looks and everything about her. She is one of the best role model for girls I think. Stunningly beautiful, wise and smart. Cool. Anyway, here's some quotes that I took from websites.
From
http://www.telegraph.co.uk/culture/film/starsandstories/9571818/Emma-Watson-interview-why-shes-happy-to-be-over-Harry-Potter.html
“When I started dating I had this kind of Romeo and Juliet, fateful romantic idea about love which was almost that you were a victim and there was a lot of pain involved and that was how it should be,” she says.
“Shakespeare said the course of true love never did run smooth, and I had this sense that it had to be painful. It was such a revelation in Perks of Being a Wallflower to realise that it shouldn’t be that way and that you get to choose who you love and who you decide to give your heart to.
“It sounds like a cliché but I also learnt that you’re not going to fall for the right person until you really love yourself and feel good about how you are.” She pauses, looking slightly embarrassed, and says: “Well, that was revelatory to me.”
Then, sounding very worldly, she adds: “But it’s a journey and the sad thing is you only learn from experience, so as much as someone can tell you things, you have to go out there and make your own mistakes in order to learn.”
SO TRUE INDEED. LOL
From
https://id.celebrity.yahoo.com/blogs/blog-editor/sembilan-sisi-lain-kehidupan-emma-watson-063119260.html
Tidak heran Watson sangat cocok memerankan karakter Hermione Granger; kebijaksanaannya melebihi usianya, apalagi untuk urusan cinta dan kehidupan. Contohnya, dia memberikan sebuah kutipan untuk Vogue pada 2011 saat dia bersiap untuk meninggalkan karakternya yang cerdas dan suka memerintah di film “Harry Potter”. “Saya tidak ingin ketakutan akan kegagalan menghalangi saya melakukan apa yang saya suka,” ucapnya.
Tahun berikutnya, Emma menyampaikan pendapatnya mengenai hubungan asmara pada surat kabar Inggris The Telegraph. “Kedengarannya memang klise, tapi saya belajar bahwa Anda tidak akan bisa jatuh cinta dengan orang yang tepat sampai Anda benar-benar mencintai diri Anda sendiri dan merasa nyaman dengan diri Anda,” kata Emma.
![]() |
| http://hqwallbase.com/45044-emma-watson-wallpapers-emma-photos-desktop/ |
I've learned that being in love is not that simple. It may brings us happy all day, but in the other side it could make us sad too. Relationship between two people is difficult, we have to accept all the differences.
Sometimes when I'm so sure about something, you don't. I don't know what's in your mind. Mind tricks. Yes, I'm studying psychology, but I'm not a psychic darl!
Sometimes when I'm so sure about something, you don't. I don't know what's in your mind. Mind tricks. Yes, I'm studying psychology, but I'm not a psychic darl!
Just don't overthinking about it and let it be. The right time will come. I know, hoping here. Like my friend, Hayu always said " Right time, right place, right person, and right situation."
" You’re not going to fall for the right person until you really love yourself and feel good about how you are ". -Emma Watson-
Bisous xx
Selasa, 15 April 2014
Free Your Mind
Free your mind. Baby. Yeah.
Suatu ketika saat sedang bersantai, saya tersadar bahwa kita terbiasa mengikuti alur mekanistik dunia kapitalisme masa kini. Siapa sih jaman sekarang yang tidak mendewakan uang, harta benda dan wanita? (haha buat yang cewek ya mendewakan pria). Kalo dengerin obrolan cewe kampus isinya cuma cowooo melulu, kayak nggak ada cerita lain aja.
Sinar mentari yang akhir-akhir ini malu untuk menyapa manusia, dikalahkan oleh keberanian si hujan deres. Yes! Surabaya adem. Cucian gue apakabar? HAHA
Sejenak membawa angan untuk berlabuh di pulau kapuk, merenungkan berbagai hal. Kamar dirumah tante saya ini memang menyenangkan untuk bersantai, desain interior minimalis dengan pemandangan pepohonan di perumahan yang asri. Terlebih sehabis hujan. Sehingga seringkali tante hanya dapat berdehem menyindir kemageran saya.
Heidegger menyebut manusia dengan Dasein (ada di situ atau ada di sini). Dasein adalah khas manusia sebagai mahluk yang memiliki pengertian tentang Ada. Ada tiga sifat yang menandai keberadaan Dasein yaitu "faktisitas", "eksistensialitas" dan "kemerosotan".
Faktisitas adalah kenyataan bahwa manusia, diluar kemauannya, terdampar di dunia dengan kondisi dan situasi tertentu. Faktisitas ini mengandaikan kebebasan eksistensial manusia untuk mewujudkan kemampuan dan menentukan diri, masuk ke eksistensialitas dimana manusia memikul tanggung jawab pribadi untuk membentuk hidupnya sendiri.
Sedangkan "kemerosotan" adalah keadaan ketika manusia cenderung untuk menyesuaikan diri dengan dunia sekitar, akibat kurang penghayatan terhadap eksistensialitasnya. Di sini manusia tidak autentik lagi. Untuk mengatasi kemerosotan ini, menurut Heidegger, adalah dengan mengenal Angst (rasa takut tak berobyek).
Angst dapat muncul jika manusia membuka diri bagi suara hati. Suara hati dapat mengingatkan manusia dari kelupaannya dan kembali menerima eksistensialitasnya sehingga kembali menjadi manusia autentik.
Suara hati. Apasih. Malah bercanda.
Pernahkan kalian terpikir untuk benar-benar mendengarkan suara hati kalian?
Ini terjadi saat saya mulai belajar untuk mencari bukti "makna" dari setiap hal yang telah dilakukan, terasa adanya "kemerosotan" pada anggapan faktisitas dalam kehidupan saya. Setiap pagi ke kampus udah kayak ZOMBIE. Bed-head, gaya serampangan, mata panda pake sikap ngeselin. Ini orang rese banget yah. Diusia mendekati 20 ini, cie, sudah waktunya saya mulai memperjuangkan "eksistensialisme saya sendiri. Cukup sudah berenang dalam kolam arus yang empunya sendiri pun tidak tahu-menahu arah yang dituju. Mengingat masih berkutik pada masalah antara lanjut perkuliahan psikologi atau mengejar mimpi seni.
Saya bukanlah orang yang egois sebenarnya, tetapi melihat ke belakang yang sudah terjadi dalam kehidupan dulu membuat saya berpikir ulang. Harus berani mengambil sikap. Mau sampai kapan kayak gini, hah!
Melihat kenyataan disekitar, saya sangat bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. Diberi kelimpahan yang berlebih dibanding teman-teman yang mungkin kurang beruntung. Ada manusia yang memiliki itikad baik meskipun ia tau dunia ini kejam. Ada juga yang menyerah begitu saja lalu terjun ke dalam arus percobaan.
Beberapa malaikat itu membuat saya tertegun. Dengan segala keterbatasan para malaikat itu terus berusaha menerjang arus. Wajahnya selalu berhiaskan senyum meskipun saya tau betapa beratnya ia menahan diri untuk tidak bersedih.
Saya ingin sekali membantunya. Pada akhirnya terjun juga. Walaupun tidak terlalu mengurangi beban beratnya. Tetapi saya bahagia melihat secercah harapan itu sempat tergambar diwajahnya. Malaikat itu.
Dengan rendah hati mereka masih menyimpan tenaga untuk membantu saya berdiri diatas masalah saya sendiri. Salut. Terimakasih para malaikat, entah bagaimana hidup saya tanpa kehadiran kalian.
Sudah saatnya kita mulai bijaksana dalam menyikapi problematika hidup. Kata orang "Wise in choosing". Sekarang saya mengerti maknanya. Dulu sih cuma suka sok-sokan ngomong ke orang lain.
Semua usaha telah dikerahkan untuk mencari kepastian, tinggal menunggu hasil yang terbaik. Amin.
Akhir kata, ini bukan makalah atau karya tulis. Cuma buah pemikiran saya. Anda harus memilih, mau menyerah atau berusaha? Saya memilih untuk tetap berusaha.
Ini bukan akhir. Jalan masih panjang. Terus berjuang kawan!
SUMBER
http://upek_saka.blog.de/2005/07/19/mencari_manusia_autentik/
Suatu ketika saat sedang bersantai, saya tersadar bahwa kita terbiasa mengikuti alur mekanistik dunia kapitalisme masa kini. Siapa sih jaman sekarang yang tidak mendewakan uang, harta benda dan wanita? (haha buat yang cewek ya mendewakan pria). Kalo dengerin obrolan cewe kampus isinya cuma cowooo melulu, kayak nggak ada cerita lain aja.
Sinar mentari yang akhir-akhir ini malu untuk menyapa manusia, dikalahkan oleh keberanian si hujan deres. Yes! Surabaya adem. Cucian gue apakabar? HAHA
Sejenak membawa angan untuk berlabuh di pulau kapuk, merenungkan berbagai hal. Kamar dirumah tante saya ini memang menyenangkan untuk bersantai, desain interior minimalis dengan pemandangan pepohonan di perumahan yang asri. Terlebih sehabis hujan. Sehingga seringkali tante hanya dapat berdehem menyindir kemageran saya.
Heidegger menyebut manusia dengan Dasein (ada di situ atau ada di sini). Dasein adalah khas manusia sebagai mahluk yang memiliki pengertian tentang Ada. Ada tiga sifat yang menandai keberadaan Dasein yaitu "faktisitas", "eksistensialitas" dan "kemerosotan".
Faktisitas adalah kenyataan bahwa manusia, diluar kemauannya, terdampar di dunia dengan kondisi dan situasi tertentu. Faktisitas ini mengandaikan kebebasan eksistensial manusia untuk mewujudkan kemampuan dan menentukan diri, masuk ke eksistensialitas dimana manusia memikul tanggung jawab pribadi untuk membentuk hidupnya sendiri.
Sedangkan "kemerosotan" adalah keadaan ketika manusia cenderung untuk menyesuaikan diri dengan dunia sekitar, akibat kurang penghayatan terhadap eksistensialitasnya. Di sini manusia tidak autentik lagi. Untuk mengatasi kemerosotan ini, menurut Heidegger, adalah dengan mengenal Angst (rasa takut tak berobyek).
Angst dapat muncul jika manusia membuka diri bagi suara hati. Suara hati dapat mengingatkan manusia dari kelupaannya dan kembali menerima eksistensialitasnya sehingga kembali menjadi manusia autentik.
Suara hati. Apasih. Malah bercanda.
Pernahkan kalian terpikir untuk benar-benar mendengarkan suara hati kalian?
Ini terjadi saat saya mulai belajar untuk mencari bukti "makna" dari setiap hal yang telah dilakukan, terasa adanya "kemerosotan" pada anggapan faktisitas dalam kehidupan saya. Setiap pagi ke kampus udah kayak ZOMBIE. Bed-head, gaya serampangan, mata panda pake sikap ngeselin. Ini orang rese banget yah. Diusia mendekati 20 ini, cie, sudah waktunya saya mulai memperjuangkan "eksistensialisme saya sendiri. Cukup sudah berenang dalam kolam arus yang empunya sendiri pun tidak tahu-menahu arah yang dituju. Mengingat masih berkutik pada masalah antara lanjut perkuliahan psikologi atau mengejar mimpi seni.
Saya bukanlah orang yang egois sebenarnya, tetapi melihat ke belakang yang sudah terjadi dalam kehidupan dulu membuat saya berpikir ulang. Harus berani mengambil sikap. Mau sampai kapan kayak gini, hah!
Melihat kenyataan disekitar, saya sangat bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. Diberi kelimpahan yang berlebih dibanding teman-teman yang mungkin kurang beruntung. Ada manusia yang memiliki itikad baik meskipun ia tau dunia ini kejam. Ada juga yang menyerah begitu saja lalu terjun ke dalam arus percobaan.
Beberapa malaikat itu membuat saya tertegun. Dengan segala keterbatasan para malaikat itu terus berusaha menerjang arus. Wajahnya selalu berhiaskan senyum meskipun saya tau betapa beratnya ia menahan diri untuk tidak bersedih.
Saya ingin sekali membantunya. Pada akhirnya terjun juga. Walaupun tidak terlalu mengurangi beban beratnya. Tetapi saya bahagia melihat secercah harapan itu sempat tergambar diwajahnya. Malaikat itu.
Dengan rendah hati mereka masih menyimpan tenaga untuk membantu saya berdiri diatas masalah saya sendiri. Salut. Terimakasih para malaikat, entah bagaimana hidup saya tanpa kehadiran kalian.
Sudah saatnya kita mulai bijaksana dalam menyikapi problematika hidup. Kata orang "Wise in choosing". Sekarang saya mengerti maknanya. Dulu sih cuma suka sok-sokan ngomong ke orang lain.
Semua usaha telah dikerahkan untuk mencari kepastian, tinggal menunggu hasil yang terbaik. Amin.
Akhir kata, ini bukan makalah atau karya tulis. Cuma buah pemikiran saya. Anda harus memilih, mau menyerah atau berusaha? Saya memilih untuk tetap berusaha.
Ini bukan akhir. Jalan masih panjang. Terus berjuang kawan!
SUMBER
http://upek_saka.blog.de/2005/07/19/mencari_manusia_autentik/
Kamis, 22 Agustus 2013
PENGAMAT VS PERILAKU II
Kembali topik pada judul “Pengamat VS Pelaku”
Kenapa
sejak awal saya menulis judul tersebut?
Saya
menyadari adanya fenomena yang terus terjadi dalam kehidupan kita. Ada 2 tipe
manusia, yaitu sebagai pengamat dan pelaku.
Tipe
pengamat adalah orang-orang yang cenderung mengamati, memilih untuk tidak
terlibat langsung dan berada di balik layar saja. Bukan berarti orang tipe ini
tidak memberikan kontribusi apapun. Orang seperti ini juga memberikan
kontribusi yang besar, namun ia tidak ingin ‘terlihat’ oleh orang lain.
Tipe
pelaku adalah orang-orang yang terlibat langsung dalam berbagai aspek kehidupan
dalam dirinya. Ia ingin ‘diketahui’ atau ‘terjun langsung’ dalam tindakan yang
dilakukan. Seringkali muncul steteotype
pada orang tipe ini yang diidentikan dengan orang yang senang “cari muka”.
Tidak semua orang bertipe pelaku bertujuan untuk seperti itu kok.
Sekarang
ini termasuk tipe apakah anda?
Sejak
kecil saya termasuk ke dalam kategori tipe pengamat. Orangtua saya sering
mempertanyakan keluhan ini kepada saya, mengingat di “jaman baheula” mereka
adalah para aktivis. Memang pada dasarnya saya tidak suka terlalu ‘terlihat’,
terkadang being invisible itulah yang
menyelamatkan saya. Pernah sempet kesel juga disaat kurang dihargai. Mungkin
penampilan serampangan saya turut memberi sumbangsih atas kurangnya
“penghargaan” terhadap diri saya.
Seiring
berjalannya waktu menuju kedewasaan ini,
tersadarkan rasanya ingin berubah dari tipe pengamat menuju ke tipe
pelaku. Mengapa?
Karena
dalam era sekarang, tidak cukup hanya
menjadi pengamat. Kita juga harus dapat menampilkan image menarik dalam diri kita. Sehingga dapat menarik perhatian
bagi pelaku-pelaku lain diluar sana. Maka akan tercipta pusaran arus pelaku ke
pelaku yang menjadikan perubahan. Jika hanya berdiam dan menjadi pengamat maka
kita akan menjadi follower yang tidak
menutup kemungkinan akan terinjak-injak oleh para pelaku. Pikirkan, bagaimana
masa depan kalian jika hanya bergerak sebagai pengamat saja? Manusia jaman
sekarang sudah memulai budaya “kanibalisme” lagi men! Lu liat aja saling
serang, memfitnah, zinah, membunuh mengindikasikan moralitas yang sudah semakin
tergerus. Probabilitas kita untuk terkena arus “kanibalisme” besar banget. So
stay alive and be strong guys!
Mengenai
band Indies yang tadi saya singgung diatas, banyak hal dapat dipelajari dan
diaplikasian dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan kelima pattern tersebut akan memudahkan kita
untuk membangun diri.
Nih
penjelasan dari kelima pattern tersebut.
1. Memiliki
ciri khas
Kekhasan
ini mudah sekali terlihat dalam diri artis Independen. Mulai dari style, musik, personality, body language mereka dan lainnya yang membentuk image mereka. Aspek-aspek tersebut
mereka jadikan kekuatan dan kelebihan yang dapat menarik perhatian orang lain.
Sejatinya
bagi diri kita sendiri, tolong kawan! Jangan hilangkan ciri khas anda! Justru
dengan memperteguh hal tersebut akan dapat menyadarkan jati diri sesungguhnya yang selama ini terpendam.
2. Totalitas
Aspek
ini merupakan satu hal yang paling saya sukai. Mengambil contoh dari White
Shoes & The Couples Company misalnya. Band ini mengusung tema back to 80’s
sehingga ciri khas mereka juga mencerminkan zona 80’an. Totalitas ini terlihat
dari musik mereka serta penampilan mereka secara keseluruhan. Sang vokalis
sendiri, Sari pintar menyesuaikan warna suara serta keluwesan dalam performance yang sangat
merepresentasikan zona 80.
Semangat
totalitas dalam berkarya bisa kita contoh dalam melakukan tindakan apapun yang
akan kita ambil. Generasi muda jaman sekarang sering melupakan ‘totalitas’ dan
cenderung untuk mengambil kepraktisan dengan bantuan teknologi. Maka dari itu, gue mengajak lo semua untuk
mulai bertotalitas. Trust me, it’s worth
it.
3. Kerja
keras dan mau bertanggung jawab
Kerja
keras dan bertanggung jawab adalah dua etos kerja yang sangat penting dalam
kehidupan. Kenapa? Karena tanpa keduanya tidak aka ada hasil yang maksimal
dalam melakukan suatu tindakan. Nyokap gue tuh sering banget ngomongin kedua
etos ini, beliau bilang hal itu fundamental banget kalau memang mau berhasil
dalam melakukan sesuatu.
4. Percaya
pada diri sendiri
Poin
ini yang paling gue salut dengan mereka. Tidak semua orang dapat menjadi
percaya diri. Jika percaya diri pun, belum tentu jika diposisikan sebagai
pelaku mereka akan percaya diri. Kebanyakan dari kita hanya percaya diri
sebagai pengamat, banyak berbicara tetapi tidak mencerminkannya dalam tindakan.
“Beraninya ngomong dibelakang doang”. Ya itulah ungkapan yang paling tepat.
Tetapi melihat artis-artis Independent, saya berikan acungan kedua jempol untuk
mereka. Mereka penuh dengan kepercayaan diri dalam menampilkan dan
mengembangkan musikalitasnya. Padahal kenyataannya aliran Indie dianggap ‘aneh’,
‘nyentrik’ atau ‘nyeleneh’. Namun itu bukan menjadi batu karang yang menghalagi
langkah mereka untuk tetap berkarya. Sebaliknya, mereka semakin percaya diri dan
membangun kekuatan mereka. Menjadikan perbedaan keunikan itu sebagai kekuatan
terbesar mereka. Disitulah banyak potensi berkembang.
Untuk
diri kita sendiri, kita dapat mencontohnya untuk bersandar pada kepercayaan dan
kekuatan diri sendiri. Justru ke-otentikan kitalah yang akan menjadikan diri semakin
matang dan ditulah kekuatan terbesar kita.
5. Independent
atau mandiri
Mandiri
disini bukan berarti mandi sendiri ya, tetapi kemandirian akan diri sendiri.
Bisa berdiri dengan kaki sendiri, mengandalkan diri sendiri dalam situasi
apapun dan bisa menghadapi tanpa butuh bantuan orang lain. Artis Independent
melakukan segalanya sendiri, mulai dari proses rekaman, video klip, promosi,
job/jadwal manggung, publikasi dan sebagainya sendiri. Bandingkan dengan artis
label kenamaan yang segalanya sudah dipersiapkan oleh pihak manajemen. Memang jadi
mandiri itu berat, gue udah ngalamin juga semenjak hidup sendiri di luar kota. Apalagi
awal-awal sangat tidak mudah. Rasanya pingin nyerah dan minta bantuan orang
lain.
Satu pesan dari gue:
" WHATEVER WORST POSSIBLY HAPPEN, IF YOU TIRED JUST
RELAX, BUT DON’T GIVE UP AND ENJOY IT!"
Sempet
ada masa-masa dimana gue lemah, mungkin itu titik terendah dalam diri gue.
Sering banget ngerasain yang namanya kesepian di dalem. Bukan karena suasana,
tapi di dalam diri lo rasanya sepi. Disaat itulah pula gue ngerasa mungkin
kemandiriian gue salah dan gue butuh orang lain.
Salah
mengartikaan kemandirian itu sendiri, saya
merasa terisolasi. Kemandirian itu berbeda dengan kesendirian.
Seringkali kita menyalahartikan hal ini. Jika mandiri, “Gue sendirian dong?”
Bukan
begitu, tetapi kemandirian itu justru berarti dapat menyelesaikan masalah kita
sendiri bahkan tanpa bantuan orang lain. Justru mengarah ke lebih positifnya,
kita juga dapat menyelesaikan masalah orang lain. Sebab masalah kita sendiri
sudah terselesaikan.
Mulailah
belajar mandiri walaupun itu tidak mudah.
Setelah
menyelesaikan tulisan ini, saya sedikit merefleksikan tulisan ini. Betapa
cerdasnya menyusun suatu dogma bagi orang lain, namun saya sendiri belum
benar-benar bisa mengaplikasikan ke dalam diri sendiri.
Buka
berarti gue bullshit belaka ya.
Justru karena gue lagi berusaha untuk berubah dan gw pingin banyak orang yang
juga menyadari hal tersebut.
Saya
sendiri sedang dalam masa penyadaran jati diri.
Jati
diri bukan dicari, tetapi disadarkan dan dikembangkan.
Emang
lo cari? Siapa? Itu diri lu sendiri kan, buat aapa dicari-cari? Hahaha
Semoga
curahan dari hasil pemikiran saya ini dapat berguna buat anda refleksikan
sendiri. Di saat inilah, masa muda kita. Disaat menuju kedewasaan, saat untuk
berubah dan memulai. Goodluck and enjoy your adventure!
Sabtu, 25 Mei 2013
PENGAMAT VS PELAKU
Pengamat VS Pelaku
Di
suatu siang yang dingin, di Surabaya jarang banget men siang hari dingin! gue
juga bingung sih antara harus sedih apa senang. Dikala udara dingin gini,
biasanya orang pada males diajak keluar. Padahal gua udah suntuk sama kuliah semingguan
ini, mengharapkan adanya hembusan udara segar di akhir pekan yang dapat
mencerahkan suasana hati, jiwa dan raga.
Pada
akhirnya, hal yang bisa dilakukan anak kos adalah mengurung diri di kamar lalu
melakukan kegiatan untuk memuaskan dirinya sendiri. Ada yang gemar movie marathon, nge-stalkerin bermacam social
media, browsing apapun, games dan sebangsanya, tidur (hibernasi
ala kamus temen gue), belajar (biasanya anak yang kelewat rajin, yang pasti
bukan gw), beresin kamar, bengong. Point terakhir itu bahaya banget sebenernya,
tapi entah apa yang kalian bayangin. Biasanya sih bayangin sang pujaan,
lama-kelamaan tersadar bahwa itu hanya khayal belaka.
Gue
yang stuck pada hari sabtu siang yang
dingin ini, memutuskan untuk pergi surfing.
Setelah melakukan beberapa kewajiban, terpikir untuk melirik beberapa band
Indie yang sudah lama saya kenal namun tidak terlalu saya follow-up. Beberapa membuat kejutan baru, yang ternyata telah
berekembang sangat pesat diluar dugaan dan memberi efek penyesalan karena telah
meninggalkan mereka. Sial.
Lihat
saja band seperti White Shoes & The Couples Company, The Float Project,
Sore, Pure Saturday dan Payung Teduh. Mereka memiliki bakat otentik, kekhasan identitas
musik yang tidak dimiliki oleh band lain. Keunikan inilah yang ditonjolkan
dalam aliran indie, tidak seperti band ataupun musisi label besar. Kendati
musik mereka anti-mainstream, cukup
banyak juga memiliki penikmat setia. Ternyata di Indonesia, ada juga pangsa
pasar tak tersentuh yang telah diisi kekosongannya oleh mereka. Whiches it’s great!
Beberapa
hari lalu saya memang lagi suka-sukanya bermesraan dengan band Indies yang sudah cukup lama tidak saya
peluk lagi. Dunia perkuliahan memberikan batas ruang gerak bagi saya untuk mencintai
bidang lain diluar psikologi. Mungkin juga saya yang terlalu fokus atau tidak
fokus. Ambigu.
Saya
dapat memetik beberapa pattern yang
sama dari semua band Indies tersebut, yaitu :
1. Memiliki
ciri khas
2. Totalitas
3. Kerja
keras dan mau bertanggung jawab
4. Percaya
pada diri sendiri
5. Independent
atau mandiri
Lalu
mari kita kembali topik pada judul “Pengamat VS Pelaku”
Kenapa
sejak awal saya menulis judul tersebut?
Lanjutannya menyusul di postingan berikutnya ya :)
Senin, 20 Mei 2013
Love, Love, Love
Mengapa ilham datang disaat orang bilang "Cause baby, it's too late to say a goodnight and too early too say a goodmorning".
Entahlah
Aku tak mengerti
Cinta
Siapa
Aku, kamu, dia?
Sembari si Arctic Monkeys mendendangkan lagu 505 milik mereka, saya mencoba untuk menulis postingan di blog ini. Baru tersadar, saya memang bego. Ternyata selama ini saya selalu mencintai seseorang yang tidak mencintai saya. Dan selalu, jika mengenai lelaki itu, saya berusaha untuk mencari tahu segalanya tentang dia. Bahkan hal teromantis yang pernah dilakukan hingga menulis lagu untuknya, merekamnya, lalu berharap suatu saat akan tiba moment dimana kebenaran itu akan terungkap.
Sebaliknya hal itu malah terjadi berulang-ulang seperti sebuah siklus kehidupan, dengan rumusannya :
Saya mencintai seseorang + Saya berusaha mencintai seseorang = Orang itu tidak mencintai saya
Sahabat saya berkata, mungkin memang itu belum jodoh saya. Tapi, HEY!!! Lantas kapankah kebahagiaan itu akan datang? Mungkinkah nasib berkutat pada rumusan diatas!?! Bak mengerjakan soal matematika nih ye, ada alternatif rumusan lainnya, antara lain :
1. Orang lain mencintai saya + Saya mencintai yang lain = Saya dan dia sama-sama tidak mendapat hati orang yang kita cintai
2. Saya mencintai seseorang + Dia mencintai saya = Tetap tidak bersatu
Mungkin memang saya kurang beruntung dalam hal percintaan. Atau memang belum waktunya, seperti ada pepatah "Right person, right place, right time and the right situation". Mungkin sekarang saya berada dalam zona WRONG AT EVERYTHING kali ya HAHAHAHA *berusaha menghibur diri.
Namun satu hal yang bisa saya banggakan dari diri saya dalam hal mencinta. Ya, saya selalu mencintai seseorang dengan tulus. Tidak memandang seberapa buruk dirinya di mata orang, kendati cerca dan dera menimpa, tetap menerima dirinya apa adanya. Sempat dulu dijauhin orang juga, hanya karna saya mencintai seseorang yang menurut orang lain *maaf tidak pantas untuk dicintai. Tidak ada yang dapat mengalahkan kelebihan saya di bidang itu. Dan totalitas mencintai itulah yang selalu saya pegang hingga sekarang. Sebaliknya, itu memunculkan kontradiksi ketika menuntut seseorang yang mencintai saya agar juga secara 'totalitas' mencintai saya.
Perlukah saya mencari solusi dalam memecahkan permasalahan cinta dalam hidup saya?
Ini juga gue lagi berusaha nyari
Dari sekian lelaki yang anda cintai apa persamaanya?
Sosok yang anti-mainstream, independent, suka The Beatles sama Arctic Monkeys. Kind of guy with a metaphor, that makes me curious plus confused. Janggal juga antara emang kebetulan apa sengaja ngincer yang hobinya sama. :D
Kesalahan yang selalu dilakukan?
Terlalu terburu-buru dan terobsesi dalam menjalin sebuah hubungan, mungkin itu yang bikin ngeri juga. Saya sendiri tidak dapat menghentikan kebiasaaan buruk ini.
Rencana ke depannya?
Tetep mencintai dengan tulus, walau itu tidak mudah. Semoga saja pada akhirnya akan menemukan lelaki yang bisa membuat rumusan baru :-) cheers
Well, I gotta sleep now bye!
Jumat, 22 Juni 2012
WHY THEY GOT DA FEEL SO MUCH?
Jamiroquai - Runaway (bass cover)
Heran gue, kenapa ibu ini hebat banget main bass-nya? feel-nya dapet banget gitu.
Padahal dia bilang " I'm not pretty good at it".
gila ga bagus aja gitu, gimana yang bagus? heran gue.
kenapa ya orang bule bisa dapet feel kalau main musik?
bandingin sama orang-orang asia yang rata2 lebih terlihat seperti memainkan partitur atau have fun saja. Tetapi mereka tidak melihat dari segi feel, atau jiwa mereka sendiri.
orang bule: main musik asik sendiri karena itu passion mereka, sehingga bisa asik sendiri di kamar bikin2 video cover, tenggelam dalam dunia mereka sendiri.
orang asia: main musik jago banget, passion mereka ada karena melihat orang lain, apalagi kalo lagi rame-rame baru deh tenggelam dalam dunia musik.
persamaannya mereka , kita semua sama-sama bagus dalam hal ini. tetapi kenapa hanya di negara2 asia seperti di indonesia ini terutama, musik itu hanya sekedar seni yang enak didengar. belum menjadi seni yang indah karena keluar dari ekspresi jiwa. heran gue.
mungkin karena faktor budaya kali ya, makanya orang sini berkembangnya bukan ke arah feel, tapi situasi kali yah hahahaha. padahal gue juga mau bisa kayak orang bule, bermain bebas gitu.
tulisan ini gw buat disaat saya sedang galau untuk membuat lead guitar 4 lagu dari mumos studio kelas advance, sebenernya gue ngerasa ga mampu men. apalagi notabene saya main gitar kelasik, ehhhh ini disuruh bikin lead gitar listrik ckckckc.
makanya gue memutar otak gimana caranya supaya bisa nge-lead pake feel seperti orang bule itu. but I still don't know how??
anyone can help????
Senin, 29 Agustus 2011
THOUGHTS OF THE DAY
I'd love to watch how they first decided to grow, sometimes fell, but still following their passionate. At the end, they will become a great succesful people. So never underestimate with other people, who knows who will be one of them? :-)))
Langganan:
Postingan (Atom)

