Tampilkan postingan dengan label REFLEKSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REFLEKSI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 November 2014

PROBABILITAS :KUANTUM ?

Mengutip dari blog http://sainstory.wordpress.com/2010/12/05/mengenal-teori-quantum/

"Saya adalah seorang determinis (penganut kepastian), dipaksa bertindak seolah-olah terdapat kehendak bebas, sebab jika saya ingin hidup dalam sebuah masyarakat beradab, saya harus bertindak secara bertanggung jawab. Saya tahu secara filosofis seorang pembunuh tidak bertanggung jawab atas kejahatannya, tapi saya tidak akan minum teh bersamanya. Karir saya telah ditentukan oleh berbagai gaya yang saya tidak punya kuasa atasnya, terutama kelenjar-kelenjar misterius itu di mana alam mempersiapkan esensi kehidupan. Henry Ford boleh menyebutnya Suara Batin, Socrates menyebutnya sebagai daemon (entitas supernatural dalam ajaran Yunani kuno–penj): tiap manusia menjelaskan fakta dengan caranya sendiri bahwa kehendak manusia tidaklah bebas…Segala sesuatu itu ditetapkan…oleh gaya-gaya yang kita tak punya kuasa atasnya…pun bagi serangga dan bintang. Manusia, sayuran, atau debu kosmik, kita semua berdansa menurut tempo misterius, dilagukan di kejauhan oleh satu pemain tak nampak. (Albert Einstein)"

Kamis, 23 Oktober 2014

Sekilas Pemikiran

PERBEDAAN

Apakah kita memang diciptakan berbeda satu sama lain di dunia ini?
Kendati kita semua pada dasarnya merupakan manusia yang sama, jurang pemisah antara individu semakin terasa dalam. Fenomena ini sering saya temukan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak perlu melihat yang jauh antara stratifikasi pada aspek lapisan tertentu, dalam pergaulan saja kita cenderung untuk selektif dalam berteman. Entah memilih dari sisi apa, terkadang saya pun cenderung seperti itu.

Seakan terhanyut dengan arus kehidupan yang materialistik, mekanistik dan mungkin over-humanistik, kita berusaha untuk memanusiakan manusia tetapi lupa untuk mengenali apa itu manusia sendiri. Berbagai media, sarana-prasarana serta kecanggihan ilmu seakan menjadikan kita sebagai budak subjek dan objek tanpa memandang arti lebih jauh ke dalam. Manusia lupa untuk menggunakan hati nuraninya akan makna sebuah kehidupan, terlampau sibuk menyelami lautan tak berujung.

Saya sendiri beberapa hari ini merasa cukup gila karena ikut mengejar lautan tak berujung. Antara realita, ambisi, kemampuan dan keinginan. Mereka saling berkaitan erat satu sama lain, namun diam-diam dapat saling melukai. Bicara soal mimpi, saya memiliki sebuah impian dalam waktu dekat ini. Merasakan adanya kenikmatan batin saat melakukan perform musik baik bersama band maupun solo vokal. Ada semacam dorongan yang meminta saya untuk terus melakukannya, bukan sekedar perkara menang kalah atau penghargaan. Saya hanya menyukai euphoria saat terbawa alunan musik, “nge-fly” bersama diatas pangggung. Mungkin dengan sedikit zat adiktif atau psikotropika akan lebih mudah untuk mendapatkan “sensasi” tersebut daripada secara nyata mesti manggung. Tapi mungkin tidak akan saya lakukan.

Laki-laki adalah kelemahan perempuan, begitupun sebaliknya. Tren masa kini membuat hampir sebagian besar remaja maupun yang tua merasakan gejala “galau”. Perasaan tidak menentu yang membuat kita terus kepikiran akan sesutau yang tak pasti. Sejujurnya saya kurang menyukai keadaan ini. Hidup itu punya banyak warna, tidak seharusnya hanya kita warnai dengan kelabu. Sayang “efek pengkodisionalan” masa kini telah meng-setting kita untuk tinggal pada nuansa tersebut. Kata pepatah “tak akan lari gunung dikejar” mungkin dapat menjadi jawaban. Mungkin kita dapat belajar untuk tidak terlalu “hopeless-romantic” mengejar cinta. Sebab beliau juga tidak akan lari dari kehidupan secara harafiah, lari dari kita ya bisa jadi karena takut.

Orang jaman sekarang cenderung egois.
Tidak mau menghargai perbedaan.
Cuek.
Suka seenaknya sendiri.
Itulah beberapa anggapan dari kita yang sering terlontar dalam percakapan sehari-hari. Bisa dikatakan manusia masa kini terlihat kurang baik dalam berperilaku. Tetapi sebenarnya sejauh apakah kita dapat menghakimi perilaku seseorang?
Melalui suatu ilmu yang dikatakan dapat mengetahui perilaku manusia?
Melalui ajaran dogmatis tertentu?
Melalui pemikiran kita sendiri?
Kata orang lain?
Bukankah hanya Tuhan yang tau keadilan baik-buruk sesungguhnya? Kita manusia senang melempar kata sembarangan dari mulut tanpa benar-benar memperdulikan akibatnya.

Kita senang membeda-bedakan satu sama lain tanpa berpikir lebih jauh. Lain dikata, lain di hati, berbeda pula dalam perbuatan.

Perbedaan.
Laki-laki dan perempuan itu sudah jelas berbeda. Ketika menemukan suatu ketidaksamaan, ya harap dimaklumi. Wong memang beda. Namun cobalah untuk saling mengerti. Perbedaan itu bukan alasan negatif untuk membenarkan suatu kesalahan. Dan untuk masalah persamaan hak dan kewajiban, pada era semaju ini sudah tidak saatnya lagi saling mengadu domba.

Sudah saatnya kita tidak lagi memandang “beda” antara aku, kamu, dia, beliau, kau, mereka ataupun kita. Hakikatnya kita adalah sama. Manusia yang satu. Yang diciptakan Sang Pencipta yang sama. Untuk apa saling mencaci dan mencerca? Perbedaan itu memang nyata dan akan selalu ada. Tetapi bukan untuk dijadikan sebagai “kambing hitam” pada segala aspek kehidupan. Lihatlah segala seuatu dari berbagai aspek hingga sisi-sisi kedalaman yang tidak terselami. Kita tidak akan pernah bisa berdiri sendiri tanpa orang lain.


Tataplah dalam-dalam kepada mata setiap insan pada saat kau bertemu dan berinteraksi dengannya. Apakah benar kita jauh berbeda? Apakah hanya karena pelapisan yang saya tidak tau sedang anda pikirkan, tetapi apakah kita benar-benar berbeda? Apakah karena kulit tipis perbedaan fisik, ras, suku dan agama yang memisahkan kita? Cobalah untuk memahami dan belajar menggunakan hati. Bukan lalu menjadi makhluk lemah yang minta dikasihani, sebaliknya kasihilah orang lain. Sesamamu. Seperti kamu mengasihi dirimu sendiri. Sebab kita adalah sama.

Senin, 29 September 2014

MUSIC, LOVE, LIFE

Saat ini saya sedang berada di lab statistik di fakltas saya. Setelah sejak beberapa jam lalu browsing musik, entah terpikir untuk melakukan sesuatu yang produktif, salah satunya dengan menulis postingan ini.

Soal hidup, saya mulai terbiasa untuk menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Berusaha untuk tidak lagi memaksakan keegoisan saya, dan cukup menjalani kewajiban dengan sebaik-baiknya. Dan berharap bahwa Tuhan akan memberikan kejutan yang jauh lebih baik dari yang saya harapkan. Walaupun terkadang terasa berat, namun saya percaya ini adalah hal yang baik.

Mengenai cinta, setiap orang pasti pernah merasakan cinta. Baik dari orangtua, anak, pasangan, teman, makhluk hidup lain. Setelah sekian tahun berusaha untuk menyukai, saya tersadar apa cinta itu. Kemarin sempat melihat postingan pm teman saya di bbm, yang pada intinya, saat kita mencintai maka kita akan menjadi lebih bertoleransi terhadap sesama dan diri sendiri.

Ingin sekali saya dan band saya mengikuti ajang kompetisi, namun waktu belum tepat. Terkadang saya merasa lelah harus terus menjadi sosok yang mengejar mereka. Apakah hanya saya yang punya inisiatif?

Saya belajar bahwa dalam hidup, hidup itulah sendiri yang harus kita jalani. Seringkali kita terjebak dalam perjuangan kerasnya hidup atau berpasrah dengan galau. Tuhan, pencipta kita sudah mengatur hidup kita sedemikian rupa dengan indah. Bukanlah indah jika kita menjalani hidup dengan melakukan segala seuatunya sebaik-baiknya dan menyerahkan semuanya kepada-Nya. Jika memang itu yang dikehendaki-Nya, maka ia akan memberikannya kepada kita. Sebab kita manusia hanyalah makhluk fana yang selalu berusaha terlihat nyata.

Kamis, 21 Agustus 2014

KEHARUSAN

Keharusan

Selasa, 19 agustus 2014
16:00-16:47



Harus berarti wajib dilakukan atau dengan kata lain tidak ada pilihan selain memang dilakukan.
Suatu sore menjelang senja saya sedang mati kebosanan di dalam mobil. Bibir saya pecah-pecah sampai berdarah, oke itu hanya selingan. Pada intinya saya kesal. Apakah memang dalam hidup ini kita harus melakukan sesuatu?

Disini saya ingin mengambil arti yaitu keharusan dalam melakukan sesuatu pada idealisme. Pola kehidupan masyarakat moderen menuntut kita menuruti persepsi kehidupan ideal yang digambarkan. Estetika, baik itu fisik maupun penampilan, kekayaan dan keberhasilan mendorong manusia berlomba-lomba meraih yang terbaik. 

Tetapi apakah itu merupakah suatu keharusan?
Apakah kita harus melakukannya demi mencapai gambaran 'ideal' tersebut?
Saya ragu
Harus?

Diusia ke duapuluh tahun ini merupakan gerbang awal menuju kedewasaan. Mungkin secara umur saya sudah cukup tua, namun dari sisi psikologis dan tanggung jawab masih sering dianggap seperti anak kecil.
Banyak orang yang menggantungkan berbagai ekspektasi kepada saya. Dari tinggi hingga rendah yang secara tidak langsung mengharuskan untuk dihadapi. Sekali lagi saya bertanya, HARUSKAH?

Secara logika suatu angka jika dijumlahkan akan menghasilkan angka yang lebih besar lagi, terkecuali jika angka itu minus. Jika kita melakukan sesuatu yang seharusnya dan kita lakukan terus maka akan bertambah pula sesuatu itu. Kata orang, semakin banyak pengalaman maka semakin bagus. Baik maupun buruk.
Tetapi apakah dalam hidup HARUS begitu?

Saya rasa ada suatu misteri yang bahkan orang terjenius maupun tereligius sekalipun tidak akan dapat memberikan jawaban secara konkrit. Sebab kita manusia tidak akan pernah mengetahui pasti hidup kita akan seperti apa. Yang kita tau pasti perubahan bersifat konstan. Segala sesuatu pasti berubah, itu yang pasti. Bukan merupakan keharusan, tetapi pasti berubah tanpa siapapun berhak untuk mengharuskannya.

Yang saya takutkan kini apakah dengan melakukan KEHARUSAN maka hidup saya akan terjamin dengan baik?
Atau saya memilih untuk berpasrah atau lari dari ekspektasi orang lain?
Bukankah berat jika nanti hidup memutarbalikkan ekspektasi saya sendiri ditambah cemoohan dari orang lain? Ya, saya tau sih mereka berani amat ngomong tanpa tau situasi saya yang sebenarnya. Tapi begitulah hidup.

Hidup merupakan suatu keharusan yang kita sendiripun tidak bisa mempertanyakan sebenarnya siapa, apa, bagaimana, dimana, kapan-KAH KEHARUSAN itu sendiri.

Ternyata kekesalan dan kekecewan masalah pribadi saya bisa berbuah menjadi sebuah tulisan indah ini. Good job buat otak saya haha. 

Senin, 11 Agustus 2014

HURTS

Hey! just made this quote. Trying to describe what I'm feeling now, but it's really hard to write a nice sentences nor some decent words. Almost midnight and I can't sleep.


Minggu, 27 Juli 2014

FLASHBACK




FLASHBACK


Apasih Flashback itu?

Menurut saya sendiri "FLASHBACK" berarti memutar kembali atau mengulang kembali, entah itu berupa suatu benda mati (karya seni film, drama, buku, dsb), perasaan, memori, ingatan, masalah, maupun suatu bentuk kegiatan lain yang dapat di-recall kembali.


Dari hasil browsing mbah google :

kilas balik
      n 1: transisi (dalam karya sastra atau sandiwara atau film) untuk
           sebelumnya acara atau pemandangan yang interrupts normal
           kronologis perkembangan cerita [ant: (
flash-forward)]
      2: hidup yang tidak diharapkan tetapi perulangan dari pengalaman masa lalu
         (khususnya yang kambuh dari efek yang
         obat hallucinogenic diambil banyak sebelumnya)
[N] (Memori): fakultas (): memori, ingatan, kenangan,
 pengakuan, ingatan, kambuh, kilas balik, kembali,
 retrospeksi.



Saya mencoba untuk melakukan kilas balik atau "FLASHBACK" secara pribadi. Akhir-akhir ini saya sering merasa kesepian. Berbeda dengan kesendirian, tidak sendirian seperti kelebai-an di film-film. Mungkin hanya perasaan saja atau entahlah.

Dunia perkuliahan semester ini sangat menyita waktu para mahasiswa angkatan 2012 di fakultas saya. Tugas-tugas menumpuk, kegiatan diluar akademik seperti kepanitiaan, libur yang terjepit (tentunya dimanfaatkan untuk pulang kampung) dan transisi perubahan menuju mahasiswa tingkat atas. Hampir semua anak asik bergumul dengan kesibukan itu, namun ada juga yang terjebak atau tersesat, maupun kabur dari rutinitas itu. Kabur untuk selamanya dan bisa saja bertemu lagi di semester depan. HAHA.

Saya sendiri akhirnya menyadari apa yang saya inginkan dalam hidup. Disisi lain tidak dapat begitu saja kabur meninggalkan realitas. Konflik batin membuat saya ingin menarik diri dari semuanya, semua hal. Kesepian dan kesendirian sering mewarnai kehidupan pada semester 4 ini. Mungkin trauma akan trust issues terhadap beberapa oknum mendoktrin otak saya dengan tegas berkata "CUKUP TAU". Menimbulkan ketakutan untuk kembali percaya setelah datangnya kekecewaan-kekecewaan itu.

Sejak kecil, kehidupan membawa saya untuk selalu menjadi “petualang”. Seringnya berpindah tempat serta ketidakmampuan untuk memilih sesuatu membentuk karakter saya hingga sekarang. Sebenarnya saya adalah seorang planner sejati, akan tetapi realita seringkali memutarbalikkan harapan. Jadi ya, mohon harap maklum dengan kecuekan atau keapatisan saya.

Hari minggu ini terjadilah sebuah keajaiban, seakan-akan telah menjawab semua pertanyaan keraguan saya. Sepertinya Tuhan telah menjawab doa sang pertapa dengan seribu kebajikan dan kebijaksanaan. “Hidup itu seperti berjalan diatas seutas tali.” Disisi lain kita harus terus melangkah ke depan jika ingin maju, tetapi disisi lain kita juga harus bisa membuang keegoisan kita agar tidak terjatuh. “Ikhlas untuk berubah”. Kita berjalan pada tali yang masing-masing individu pun berbeda, tetapi kita saling bergandengan dengan orang lain di tali-tali lain. Semuanya itu tidak hanya tentang diri kita sendiri, tetapi bagaimana posisi kita dengan orang lain. Kita ini Zool Politicon, ya makhluk sosial.

Kita bukanlah manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Maka sudah sewajarnya kita pasti akan berbuat salah kok. Saya belajar bahwa untuk melanjutkan hidup kita  itu berarti juga melanjutkan hidup untuk orang lain. Bukalah diri kita sebebas mungkin, baik secara pemikiran, tindakan, atau pun perasaan. Jangan sampai kita terjebak dengan ‘pemikiran kolot’. Teruslah berusaha untuk menjaga keseimbangan antara diri sendiri dengan sesama. Luangkanlah waktu untuk “mem-flashback” setiap kejadian yang terjadi. Jadikanlah sebuah pembelajaran, baik buruknya, susah-senangnya, pahit-manisnya agar kelak kita tak perlu mengeryutkan kening(MENYESAL) saat nanti melakukan “FLASHBACK”.


Salam,

Nindy a.k.a Nino



PUSTAKA

http://id.w3dictionary.org/index.php?q=flashback

Senin, 12 Mei 2014

TAKE A LOOK CLOSER

Take a look closer
Take a look closer, won't you?
See me through the rain
Wait for a sun to shine

Come to see me now
Come to see me now
I've got a smile for a new life
Wait until you come

They say "Life it's hard, die is easy"
I know 
But If I'm with you, my life would be different
I know

Faraway from the beginning
Our state of love
Like a dreams, it happens so fast
What are we become?




At this time, I don't know what is really going on. I tried the best I can do to fix everything, but I can't. I'm only human. 

For the best, I must do what I should do. Getting done my assignments. But my heart cannot be bruised anymore. Tired to live like this. My soul was high, driven by intuition. All I really want is just thinking and doing art and music things everyday. I don't like this kind of situation right now. So frustated til I don't have any words to decribe it.

Not just pretty tiring, but I was teared and broke. 


Tears, Nino

Minggu, 20 April 2014

EMMA WATSON

   

  Just browsed recently about her. Love the way she thoughts, looks and everything about her. She is one of the best role model for girls I think. Stunningly beautiful, wise and smart. Cool. Anyway, here's some quotes that I took from websites.


From
http://www.telegraph.co.uk/culture/film/starsandstories/9571818/Emma-Watson-interview-why-shes-happy-to-be-over-Harry-Potter.html

“When I started dating I had this kind of Romeo and Juliet, fateful romantic idea about love which was almost that you were a victim and there was a lot of pain involved and that was how it should be,” she says. 
“Shakespeare said the course of true love never did run smooth, and I had this sense that it had to be painful. It was such a revelation in Perks of Being a Wallflower to realise that it shouldn’t be that way and that you get to choose who you love and who you decide to give your heart to.
“It sounds like a cliché but I also learnt that you’re not going to fall for the right person until you really love yourself and feel good about how you are.” She pauses, looking slightly embarrassed, and says: “Well, that was revelatory to me.”
Then, sounding very worldly, she adds: “But it’s a journey and the sad thing is you only learn from experience, so as much as someone can tell you things, you have to go out there and make your own mistakes in order to learn.”


SO TRUE INDEED. LOL

From
https://id.celebrity.yahoo.com/blogs/blog-editor/sembilan-sisi-lain-kehidupan-emma-watson-063119260.html
Tidak heran Watson sangat cocok memerankan karakter Hermione Granger; kebijaksanaannya melebihi usianya, apalagi untuk urusan cinta dan kehidupan. Contohnya, dia memberikan sebuah kutipan untuk Vogue pada 2011 saat dia bersiap untuk meninggalkan karakternya yang cerdas dan suka memerintah di film “Harry Potter”. “Saya tidak ingin ketakutan akan kegagalan menghalangi saya melakukan apa yang saya suka,” ucapnya. 

Tahun berikutnya, Emma menyampaikan pendapatnya mengenai hubungan asmara pada surat kabar Inggris The Telegraph. “Kedengarannya memang klise, tapi saya belajar bahwa Anda tidak akan bisa jatuh cinta dengan orang yang tepat sampai Anda benar-benar mencintai diri Anda sendiri dan merasa nyaman dengan diri Anda,” kata Emma.


http://hqwallbase.com/45044-emma-watson-wallpapers-emma-photos-desktop/


I've learned that being in love is not that simple. It may brings us happy all day, but in the other side it could make us sad too. Relationship between two people is difficult, we have to accept all the differences. 
Sometimes when I'm so sure about something, you don't. I don't know what's in your mind. Mind tricks. Yes, I'm studying psychology, but I'm not a psychic darl! 
Just don't overthinking about it and let it be. The right time will come. I know, hoping here. Like my friend, Hayu always said " Right time, right place, right person, and right situation."

" You’re not going to fall for the right person until you really love yourself and feel good about how you are ". -Emma Watson-


Bisous xx

Selasa, 15 April 2014

Free Your Mind

Free your mind. Baby. Yeah.


    Suatu ketika saat sedang bersantai, saya tersadar bahwa kita terbiasa mengikuti alur mekanistik dunia kapitalisme masa kini. Siapa sih jaman sekarang yang tidak mendewakan uang, harta benda dan wanita? (haha buat yang cewek ya mendewakan pria). Kalo dengerin obrolan cewe kampus isinya cuma cowooo melulu, kayak nggak ada cerita lain aja.

    Sinar mentari yang akhir-akhir ini malu untuk menyapa manusia, dikalahkan oleh keberanian si hujan deres. Yes! Surabaya adem. Cucian gue apakabar? HAHA
Sejenak membawa angan untuk berlabuh di pulau kapuk, merenungkan berbagai hal. Kamar dirumah tante saya ini memang menyenangkan untuk bersantai, desain interior minimalis dengan pemandangan pepohonan di perumahan yang asri. Terlebih sehabis hujan. Sehingga seringkali tante hanya dapat berdehem menyindir kemageran saya.

    Heidegger menyebut manusia dengan Dasein (ada di situ atau ada di sini). Dasein adalah khas manusia sebagai mahluk yang memiliki pengertian tentang Ada. Ada tiga sifat yang menandai keberadaan Dasein yaitu "faktisitas", "eksistensialitas" dan "kemerosotan".
Faktisitas adalah kenyataan bahwa manusia, diluar kemauannya, terdampar di dunia dengan kondisi dan situasi tertentu. Faktisitas ini mengandaikan kebebasan eksistensial manusia untuk mewujudkan kemampuan dan menentukan diri, masuk ke eksistensialitas dimana manusia memikul tanggung jawab pribadi untuk membentuk hidupnya sendiri.
Sedangkan "kemerosotan" adalah keadaan ketika manusia cenderung untuk menyesuaikan diri dengan dunia sekitar, akibat kurang penghayatan terhadap eksistensialitasnya. Di sini manusia tidak autentik lagi. Untuk mengatasi kemerosotan ini, menurut Heidegger, adalah dengan mengenal Angst (rasa takut tak berobyek).
Angst dapat muncul jika manusia membuka diri bagi suara hati. Suara hati dapat mengingatkan manusia dari kelupaannya dan kembali menerima eksistensialitasnya sehingga kembali menjadi manusia autentik.

    Suara hati. Apasih. Malah bercanda.
Pernahkan kalian terpikir untuk benar-benar mendengarkan suara hati kalian?

    Ini terjadi saat saya mulai belajar untuk mencari bukti "makna" dari setiap hal yang telah dilakukan, terasa adanya "kemerosotan" pada anggapan faktisitas dalam kehidupan saya. Setiap pagi ke kampus udah kayak ZOMBIE. Bed-head, gaya serampangan, mata panda pake sikap ngeselin. Ini orang rese banget yah. Diusia mendekati 20 ini, cie, sudah waktunya saya mulai memperjuangkan "eksistensialisme saya sendiri. Cukup sudah berenang dalam kolam arus yang empunya sendiri pun tidak tahu-menahu arah yang dituju. Mengingat masih berkutik pada masalah antara lanjut perkuliahan psikologi atau mengejar mimpi seni.

   Saya bukanlah orang yang egois sebenarnya, tetapi melihat ke belakang yang sudah terjadi dalam kehidupan dulu membuat saya berpikir ulang. Harus berani mengambil sikap. Mau sampai kapan kayak gini, hah!

   Melihat kenyataan disekitar, saya sangat bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. Diberi kelimpahan yang berlebih dibanding teman-teman yang mungkin kurang beruntung. Ada manusia yang memiliki itikad baik meskipun ia tau dunia ini kejam. Ada juga yang menyerah begitu saja lalu terjun ke dalam arus percobaan.
Beberapa malaikat itu membuat saya tertegun. Dengan segala keterbatasan para malaikat itu terus berusaha menerjang arus. Wajahnya selalu berhiaskan senyum meskipun saya tau betapa beratnya ia menahan diri untuk tidak bersedih.
Saya ingin sekali membantunya. Pada akhirnya terjun juga. Walaupun tidak terlalu mengurangi beban beratnya. Tetapi saya bahagia melihat secercah harapan itu sempat tergambar diwajahnya. Malaikat itu.
Dengan rendah hati mereka masih menyimpan tenaga untuk membantu saya berdiri diatas masalah saya sendiri. Salut. Terimakasih para malaikat, entah bagaimana hidup saya tanpa kehadiran kalian.

    Sudah saatnya kita mulai bijaksana dalam menyikapi problematika hidup. Kata orang "Wise in choosing". Sekarang saya mengerti maknanya. Dulu sih cuma suka sok-sokan ngomong ke orang lain.

Semua usaha telah dikerahkan untuk mencari kepastian, tinggal menunggu hasil yang terbaik. Amin.

   Akhir kata, ini bukan makalah atau karya tulis. Cuma buah pemikiran saya. Anda harus memilih, mau menyerah atau berusaha? Saya memilih untuk tetap berusaha.



Ini bukan akhir. Jalan masih panjang. Terus berjuang kawan!





SUMBER

http://upek_saka.blog.de/2005/07/19/mencari_manusia_autentik/

 

Kamis, 22 Agustus 2013

PENGAMAT VS PERILAKU II

Kembali topik pada judul “Pengamat VS Pelaku”

Kenapa sejak awal saya menulis judul tersebut?

Saya menyadari adanya fenomena yang terus terjadi dalam kehidupan kita. Ada 2 tipe manusia, yaitu sebagai pengamat dan pelaku.

Tipe pengamat adalah orang-orang yang cenderung mengamati, memilih untuk tidak terlibat langsung dan berada di balik layar saja. Bukan berarti orang tipe ini tidak memberikan kontribusi apapun. Orang seperti ini juga memberikan kontribusi yang besar, namun ia tidak ingin ‘terlihat’ oleh orang lain.

Tipe pelaku adalah orang-orang yang terlibat langsung dalam berbagai aspek kehidupan dalam dirinya. Ia ingin ‘diketahui’ atau ‘terjun langsung’ dalam tindakan yang dilakukan. Seringkali muncul steteotype pada orang tipe ini yang diidentikan dengan orang yang senang “cari muka”. Tidak semua orang bertipe pelaku bertujuan untuk seperti itu kok.

Sekarang ini termasuk tipe apakah anda?

Sejak kecil saya termasuk ke dalam kategori tipe pengamat. Orangtua saya sering mempertanyakan keluhan ini kepada saya, mengingat di “jaman baheula” mereka adalah para aktivis. Memang pada dasarnya saya tidak suka terlalu ‘terlihat’, terkadang being invisible itulah yang menyelamatkan saya. Pernah sempet kesel juga disaat kurang dihargai. Mungkin penampilan serampangan saya turut memberi sumbangsih atas kurangnya “penghargaan” terhadap diri saya.

Seiring berjalannya waktu menuju kedewasaan ini,  tersadarkan rasanya ingin berubah dari tipe pengamat menuju ke tipe pelaku. Mengapa?
Karena dalam era sekarang, tidak cukup  hanya menjadi pengamat. Kita juga harus dapat menampilkan image menarik dalam diri kita. Sehingga dapat menarik perhatian bagi pelaku-pelaku lain diluar sana. Maka akan tercipta pusaran arus pelaku ke pelaku yang menjadikan perubahan. Jika hanya berdiam dan menjadi pengamat maka kita akan menjadi follower yang tidak menutup kemungkinan akan terinjak-injak oleh para pelaku. Pikirkan, bagaimana masa depan kalian jika hanya bergerak sebagai pengamat saja? Manusia jaman sekarang sudah memulai budaya  “kanibalisme” lagi men! Lu liat aja saling serang, memfitnah, zinah, membunuh mengindikasikan moralitas yang sudah semakin tergerus. Probabilitas kita untuk terkena arus “kanibalisme” besar banget. So stay alive and be strong guys!

Mengenai band Indies yang tadi saya singgung diatas, banyak hal dapat dipelajari dan diaplikasian dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan kelima pattern tersebut akan memudahkan kita untuk membangun diri.
Nih penjelasan dari kelima pattern tersebut.

1.      Memiliki ciri khas
Kekhasan ini mudah sekali terlihat dalam diri artis Independen. Mulai dari style, musik, personality, body language mereka dan lainnya yang membentuk image mereka. Aspek-aspek tersebut mereka jadikan kekuatan dan kelebihan yang dapat menarik perhatian orang lain.
Sejatinya bagi diri kita sendiri, tolong kawan! Jangan hilangkan ciri khas anda! Justru dengan memperteguh hal tersebut akan dapat menyadarkan jati diri  sesungguhnya yang selama ini terpendam.

2.      Totalitas
Aspek ini merupakan satu hal yang paling saya sukai. Mengambil contoh dari White Shoes & The Couples Company misalnya. Band ini mengusung tema back to 80’s sehingga ciri khas mereka juga mencerminkan zona 80’an. Totalitas ini terlihat dari musik mereka serta penampilan mereka secara keseluruhan. Sang vokalis sendiri, Sari pintar menyesuaikan warna suara serta keluwesan dalam performance yang sangat merepresentasikan zona 80.
Semangat totalitas dalam berkarya bisa kita contoh dalam melakukan tindakan apapun yang akan kita ambil. Generasi muda jaman sekarang sering melupakan ‘totalitas’ dan cenderung untuk mengambil kepraktisan dengan bantuan teknologi.  Maka dari itu, gue mengajak lo semua untuk mulai bertotalitas. Trust me, it’s worth it.

3.      Kerja keras dan mau bertanggung jawab
Kerja keras dan bertanggung jawab adalah dua etos kerja yang sangat penting dalam kehidupan. Kenapa? Karena tanpa keduanya tidak aka ada hasil yang maksimal dalam melakukan suatu tindakan. Nyokap gue tuh sering banget ngomongin kedua etos ini, beliau bilang hal itu fundamental banget kalau memang mau berhasil dalam melakukan sesuatu.

4.      Percaya pada diri sendiri
Poin ini yang paling gue salut dengan mereka. Tidak semua orang dapat menjadi percaya diri. Jika percaya diri pun, belum tentu jika diposisikan sebagai pelaku mereka akan percaya diri. Kebanyakan dari kita hanya percaya diri sebagai pengamat, banyak berbicara tetapi tidak mencerminkannya dalam tindakan. “Beraninya ngomong dibelakang doang”. Ya itulah ungkapan yang paling tepat. Tetapi melihat artis-artis Independent, saya berikan acungan kedua jempol untuk mereka. Mereka penuh dengan kepercayaan diri dalam menampilkan dan mengembangkan musikalitasnya. Padahal kenyataannya aliran Indie dianggap ‘aneh’, ‘nyentrik’ atau ‘nyeleneh’. Namun itu bukan menjadi batu karang yang menghalagi langkah mereka untuk tetap berkarya. Sebaliknya, mereka semakin percaya diri dan membangun kekuatan mereka. Menjadikan perbedaan keunikan itu sebagai kekuatan terbesar mereka. Disitulah banyak potensi berkembang.
Untuk diri kita sendiri, kita dapat mencontohnya untuk bersandar pada kepercayaan dan kekuatan diri sendiri. Justru ke-otentikan kitalah yang akan menjadikan diri semakin matang dan ditulah kekuatan terbesar kita.

5.      Independent atau mandiri
Mandiri disini bukan berarti mandi sendiri ya, tetapi kemandirian akan diri sendiri. Bisa berdiri dengan kaki sendiri, mengandalkan diri sendiri dalam situasi apapun dan bisa menghadapi tanpa butuh bantuan orang lain. Artis Independent melakukan segalanya sendiri, mulai dari proses rekaman, video klip, promosi, job/jadwal manggung, publikasi dan sebagainya sendiri. Bandingkan dengan artis label kenamaan yang segalanya sudah dipersiapkan oleh pihak manajemen. Memang jadi mandiri itu berat, gue udah ngalamin juga semenjak hidup sendiri di luar kota. Apalagi awal-awal sangat tidak mudah. Rasanya pingin nyerah dan minta bantuan orang lain. 

Satu pesan dari gue:
" WHATEVER WORST POSSIBLY HAPPEN, IF YOU TIRED JUST RELAX, BUT DON’T GIVE UP AND ENJOY IT!"

Sempet ada masa-masa dimana gue lemah, mungkin itu titik terendah dalam diri gue. Sering banget ngerasain yang namanya kesepian di dalem. Bukan karena suasana, tapi di dalam diri lo rasanya sepi. Disaat itulah pula gue ngerasa mungkin kemandiriian gue salah dan gue butuh orang lain.
Salah mengartikaan kemandirian itu sendiri, saya  merasa terisolasi. Kemandirian itu berbeda dengan kesendirian. Seringkali kita menyalahartikan hal ini. Jika mandiri, “Gue sendirian dong?”
Bukan begitu, tetapi kemandirian itu justru berarti dapat menyelesaikan masalah kita sendiri bahkan tanpa bantuan orang lain. Justru mengarah ke lebih positifnya, kita juga dapat menyelesaikan masalah orang lain. Sebab masalah kita sendiri sudah terselesaikan.
Mulailah belajar mandiri walaupun itu tidak mudah.


Setelah menyelesaikan tulisan ini, saya sedikit merefleksikan tulisan ini. Betapa cerdasnya menyusun suatu dogma bagi orang lain, namun saya sendiri belum benar-benar bisa mengaplikasikan ke dalam diri sendiri.
Buka berarti gue bullshit belaka ya. Justru karena gue lagi berusaha untuk berubah dan gw pingin banyak orang yang juga menyadari hal tersebut.

Saya sendiri sedang dalam masa penyadaran jati diri.

Jati diri bukan dicari, tetapi disadarkan dan dikembangkan.

Emang lo cari? Siapa? Itu diri lu sendiri kan, buat aapa dicari-cari? Hahaha

Semoga curahan dari hasil pemikiran saya ini dapat berguna buat anda refleksikan sendiri. Di saat inilah, masa muda kita. Disaat menuju kedewasaan, saat untuk berubah dan memulai. Goodluck and enjoy your adventure!

Sabtu, 25 Mei 2013

PENGAMAT VS PELAKU

Pengamat VS Pelaku


Di suatu siang yang dingin, di Surabaya jarang banget men siang hari dingin! gue juga bingung sih antara harus sedih apa senang. Dikala udara dingin gini, biasanya orang pada males diajak keluar. Padahal gua udah suntuk sama kuliah semingguan ini, mengharapkan adanya hembusan udara segar di akhir pekan yang dapat mencerahkan suasana hati, jiwa dan raga.

Pada akhirnya, hal yang bisa dilakukan anak kos adalah mengurung diri di kamar lalu melakukan kegiatan untuk memuaskan dirinya sendiri. Ada yang gemar movie marathon, nge-stalkerin bermacam social media, browsing apapun, games dan sebangsanya, tidur (hibernasi ala kamus temen gue), belajar (biasanya anak yang kelewat rajin, yang pasti bukan gw), beresin kamar, bengong. Point terakhir itu bahaya banget sebenernya, tapi entah apa yang kalian bayangin. Biasanya sih bayangin sang pujaan, lama-kelamaan tersadar bahwa itu hanya khayal belaka.

Gue yang stuck pada hari sabtu siang yang dingin ini, memutuskan untuk pergi surfing. Setelah melakukan beberapa kewajiban, terpikir untuk melirik beberapa band Indie yang sudah lama saya kenal namun tidak terlalu saya follow-up. Beberapa membuat kejutan baru, yang ternyata telah berekembang sangat pesat diluar dugaan dan memberi efek penyesalan karena telah meninggalkan mereka. Sial.

Lihat saja band seperti White Shoes & The Couples Company, The Float Project, Sore, Pure Saturday dan Payung Teduh. Mereka memiliki bakat otentik, kekhasan identitas musik yang tidak dimiliki oleh band lain. Keunikan inilah yang ditonjolkan dalam aliran indie, tidak seperti band ataupun musisi label besar. Kendati musik mereka anti-mainstream, cukup banyak juga memiliki penikmat setia. Ternyata di Indonesia, ada juga pangsa pasar tak tersentuh yang telah diisi kekosongannya oleh mereka. Whiches it’s great! 

Beberapa hari lalu saya memang lagi suka-sukanya bermesraan dengan band Indies yang sudah cukup lama tidak saya peluk lagi. Dunia perkuliahan memberikan batas ruang gerak bagi saya untuk mencintai bidang lain diluar psikologi. Mungkin juga saya yang terlalu fokus atau tidak fokus. Ambigu.

Saya dapat memetik beberapa pattern yang sama dari semua band Indies tersebut, yaitu :
1. Memiliki ciri khas
2. Totalitas
3. Kerja keras dan mau bertanggung jawab
4. Percaya pada diri sendiri
5. Independent atau mandiri

Lalu mari kita kembali topik pada judul “Pengamat VS Pelaku”
Kenapa sejak awal saya menulis judul tersebut?

Lanjutannya menyusul di postingan berikutnya ya :)

Senin, 20 Mei 2013

Love, Love, Love

Mengapa ilham datang disaat orang bilang "Cause baby, it's too late to say a goodnight and too early too say a goodmorning".


Entahlah
Aku tak mengerti
Cinta
Siapa
Aku, kamu, dia?

Sembari si Arctic Monkeys mendendangkan lagu 505 milik mereka, saya mencoba untuk menulis postingan di blog ini. Baru tersadar, saya memang bego. Ternyata selama ini saya selalu mencintai seseorang yang tidak mencintai saya. Dan selalu, jika mengenai lelaki itu, saya berusaha untuk mencari tahu segalanya tentang dia. Bahkan hal teromantis yang pernah dilakukan hingga menulis lagu untuknya, merekamnya, lalu berharap suatu saat akan tiba moment dimana kebenaran itu akan terungkap.

Sebaliknya hal itu malah terjadi berulang-ulang seperti sebuah siklus kehidupan, dengan rumusannya :
Saya mencintai seseorang + Saya berusaha mencintai seseorang = Orang itu tidak mencintai saya



Sahabat saya berkata, mungkin memang itu belum jodoh saya. Tapi, HEY!!! Lantas kapankah kebahagiaan itu akan datang? Mungkinkah nasib berkutat pada rumusan diatas!?! Bak mengerjakan soal matematika nih ye, ada alternatif rumusan lainnya, antara lain :


1. Orang lain mencintai saya + Saya mencintai yang lain = Saya dan dia sama-sama tidak mendapat hati orang yang kita cintai
2. Saya mencintai seseorang + Dia mencintai saya = Tetap tidak bersatu



Mungkin memang saya kurang beruntung dalam hal percintaan. Atau memang belum waktunya, seperti ada pepatah "Right person, right place, right time and the right situation". Mungkin sekarang saya berada dalam zona WRONG AT EVERYTHING kali ya HAHAHAHA *berusaha menghibur diri.



Namun satu hal yang bisa saya banggakan dari diri saya dalam hal mencinta. Ya, saya selalu mencintai seseorang dengan tulus. Tidak memandang seberapa buruk dirinya di mata orang, kendati cerca dan dera menimpa, tetap menerima dirinya apa adanya. Sempat dulu dijauhin orang juga, hanya karna saya mencintai seseorang yang menurut orang lain *maaf  tidak pantas untuk dicintai. Tidak ada yang dapat mengalahkan kelebihan saya di bidang itu. Dan totalitas mencintai itulah yang selalu saya pegang hingga sekarang. Sebaliknya, itu memunculkan kontradiksi ketika menuntut seseorang yang mencintai saya agar juga secara 'totalitas' mencintai saya.


Perlukah saya mencari solusi dalam memecahkan permasalahan cinta dalam hidup saya?
Ini juga gue lagi berusaha nyari

Dari sekian lelaki yang anda cintai apa persamaanya?
Sosok yang anti-mainstream, independent, suka The Beatles sama Arctic Monkeys. Kind of guy with a metaphor, that makes me curious plus confused. Janggal juga antara emang kebetulan apa sengaja ngincer yang hobinya sama. :D

Kesalahan yang selalu dilakukan?
Terlalu terburu-buru dan terobsesi dalam menjalin sebuah hubungan, mungkin itu yang bikin ngeri juga. Saya sendiri tidak dapat menghentikan kebiasaaan buruk ini.

Rencana ke depannya?
Tetep mencintai dengan tulus, walau itu tidak mudah. Semoga saja pada akhirnya akan menemukan lelaki yang bisa membuat rumusan baru :-) cheers


Well, I gotta sleep now bye!


Jumat, 22 Juni 2012

WHY THEY GOT DA FEEL SO MUCH?


Jamiroquai - Runaway (bass cover)


Heran gue, kenapa ibu ini hebat banget main bass-nya? feel-nya dapet banget gitu. 
Padahal dia bilang " I'm not pretty good at it".
gila ga bagus aja gitu, gimana yang bagus? heran gue.

kenapa ya orang bule bisa dapet feel kalau main musik?
bandingin sama orang-orang asia yang rata2 lebih terlihat seperti memainkan partitur atau have fun saja. Tetapi mereka tidak melihat dari segi feel, atau jiwa mereka sendiri.

orang bule: main musik asik sendiri karena itu passion mereka, sehingga bisa asik sendiri di kamar bikin2 video cover, tenggelam dalam dunia mereka sendiri.

orang asia: main musik jago banget, passion mereka ada karena melihat orang lain, apalagi kalo lagi rame-rame baru deh tenggelam dalam dunia musik.

persamaannya mereka , kita semua sama-sama bagus dalam hal ini. tetapi kenapa hanya di negara2 asia seperti di indonesia ini terutama, musik itu hanya sekedar seni yang enak didengar. belum menjadi seni yang indah karena keluar dari ekspresi jiwa. heran gue.

mungkin karena faktor budaya kali ya, makanya orang sini berkembangnya bukan ke arah feel, tapi situasi kali yah hahahaha. padahal gue juga mau bisa kayak orang bule, bermain bebas gitu.

tulisan ini gw buat disaat saya sedang galau untuk membuat lead guitar 4 lagu dari mumos studio kelas advance, sebenernya gue ngerasa ga mampu men. apalagi notabene saya main gitar kelasik, ehhhh ini disuruh bikin lead gitar listrik ckckckc.

makanya gue memutar otak gimana caranya supaya bisa nge-lead pake feel seperti orang bule itu. but I still don't know how??
anyone can help????

Senin, 29 Agustus 2011

THOUGHTS OF THE DAY

I'd love to watch how they first decided to grow, sometimes fell, but still following their passionate. At the end, they will become a great succesful people. So never underestimate with other people, who knows who will be one of them? :-)))