Free your mind. Baby. Yeah.
Suatu ketika saat sedang bersantai, saya tersadar bahwa kita terbiasa mengikuti alur mekanistik dunia kapitalisme masa kini. Siapa sih jaman sekarang yang tidak mendewakan uang, harta benda dan wanita? (haha buat yang cewek ya mendewakan pria). Kalo dengerin obrolan cewe kampus isinya cuma cowooo melulu, kayak nggak ada cerita lain aja.
Sinar mentari yang akhir-akhir ini malu untuk menyapa manusia, dikalahkan oleh keberanian si hujan deres. Yes! Surabaya adem. Cucian gue apakabar? HAHA
Sejenak membawa angan untuk berlabuh di pulau kapuk, merenungkan berbagai hal. Kamar dirumah tante saya ini memang menyenangkan untuk bersantai, desain interior minimalis dengan pemandangan pepohonan di perumahan yang asri. Terlebih sehabis hujan. Sehingga seringkali tante hanya dapat berdehem menyindir kemageran saya.
Heidegger menyebut manusia dengan Dasein (ada di situ atau ada di sini).
Dasein adalah khas manusia sebagai mahluk yang memiliki pengertian
tentang Ada. Ada tiga sifat yang menandai keberadaan Dasein yaitu
"faktisitas", "eksistensialitas" dan "kemerosotan".
Faktisitas adalah
kenyataan bahwa manusia, diluar kemauannya, terdampar di dunia dengan
kondisi dan situasi tertentu. Faktisitas ini mengandaikan kebebasan
eksistensial manusia untuk mewujudkan kemampuan dan menentukan diri,
masuk ke eksistensialitas dimana manusia memikul tanggung jawab pribadi
untuk membentuk hidupnya sendiri.
Sedangkan "kemerosotan" adalah keadaan
ketika manusia cenderung untuk menyesuaikan diri dengan dunia sekitar,
akibat kurang penghayatan terhadap eksistensialitasnya. Di sini manusia
tidak autentik lagi. Untuk mengatasi kemerosotan ini, menurut Heidegger,
adalah dengan mengenal Angst (rasa takut tak berobyek).
Angst dapat
muncul jika manusia membuka diri bagi suara hati. Suara hati dapat
mengingatkan manusia dari kelupaannya dan kembali menerima
eksistensialitasnya sehingga kembali menjadi manusia autentik.
Suara hati. Apasih. Malah bercanda.
Pernahkan kalian terpikir untuk benar-benar mendengarkan suara hati kalian?
Ini terjadi saat saya mulai belajar untuk mencari bukti "makna" dari setiap hal yang telah dilakukan, terasa adanya "kemerosotan" pada anggapan faktisitas dalam kehidupan saya. Setiap pagi ke kampus udah kayak ZOMBIE. Bed-head, gaya serampangan, mata panda pake sikap ngeselin. Ini orang rese banget yah. Diusia mendekati 20 ini, cie, sudah waktunya saya mulai memperjuangkan "eksistensialisme saya sendiri. Cukup sudah berenang dalam kolam arus yang empunya sendiri pun tidak tahu-menahu arah yang dituju. Mengingat masih berkutik pada masalah antara lanjut perkuliahan psikologi atau mengejar mimpi seni.
Saya bukanlah orang yang egois sebenarnya, tetapi melihat ke belakang yang sudah terjadi dalam kehidupan dulu membuat saya berpikir ulang. Harus berani mengambil sikap. Mau sampai kapan kayak gini, hah!
Melihat kenyataan disekitar, saya sangat bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. Diberi kelimpahan yang berlebih dibanding teman-teman yang mungkin kurang beruntung. Ada manusia yang memiliki itikad baik meskipun ia tau dunia ini kejam. Ada juga yang menyerah begitu saja lalu terjun ke dalam arus percobaan.
Beberapa malaikat itu membuat saya tertegun. Dengan segala keterbatasan para malaikat itu terus berusaha menerjang arus. Wajahnya selalu berhiaskan senyum meskipun saya tau betapa beratnya ia menahan diri untuk tidak bersedih.
Saya ingin sekali membantunya. Pada akhirnya terjun juga. Walaupun tidak terlalu mengurangi beban beratnya. Tetapi saya bahagia melihat secercah harapan itu sempat tergambar diwajahnya. Malaikat itu.
Dengan rendah hati mereka masih menyimpan tenaga untuk membantu saya berdiri diatas masalah saya sendiri. Salut. Terimakasih para malaikat, entah bagaimana hidup saya tanpa kehadiran kalian.
Sudah saatnya kita mulai bijaksana dalam menyikapi problematika hidup. Kata orang "Wise in choosing". Sekarang saya mengerti maknanya. Dulu sih cuma suka sok-sokan ngomong ke orang lain.
Semua usaha telah dikerahkan untuk mencari kepastian, tinggal menunggu hasil yang terbaik. Amin.
Akhir kata, ini bukan makalah atau karya tulis. Cuma buah pemikiran saya. Anda harus memilih, mau menyerah atau berusaha? Saya memilih untuk tetap berusaha.
Ini bukan akhir. Jalan masih panjang. Terus berjuang kawan!
SUMBER
http://upek_saka.blog.de/2005/07/19/mencari_manusia_autentik/
Selasa, 15 April 2014
Rabu, 18 September 2013
HELLO WORLD (AGAIN)
Saat menulis postingan blog ini saya sedang mengambil cuti kuliah sementara waktu. Ada kerjaan baru? Tidak, saya sakit. Tempo hari pada badan saya muncul bintik-bintik merah dan demam, gejala infeksi virus-kecapean kata dokter. I've drilled myself too much, haven't I?
Saat ini saya memutuskan untuk nge-blog, ingin sekedar mencurahkan pikiran saya beberapa hari ini. kebebasan ini membuat saya sadar. Bukan psikologi hal yang benar-benar ingin saya pelajari. Ada hal yang sangat ingin saya kejar. Musik.
Melihat kejadian masa lalu yang tidak memungkinkan untuk menekuni musik, lantas pikiran saya bercabang. Diantara realitas sekarang sebagai mahasiswa tahun kedua di psikologi bertentangan dengan keinginan saya untuk menjadi musisi yang sedemikian kuat. Jujur saya capek sama tetek bengek perkuliahan di psikologi. Bukan hanya karena masalah internal dan eksternalnya, tapi ini bukan 'GUE BANGET'.
Ya, tersadar sekarang bahwa sejak kecil hal yang selalu konsisten saya lakukan adalah bernyanyi dan bermain musik. Sayang cuma sayang, sifat mudah bosan saya mengakibatkan ketidakfokusan dalam menekuni musik. Sempat beberapa kali mengambil les musik dna vokal, namun bosan. Itu saja, saya menyerah. Penyesalan datang sekarang. Jika saja dulu saya memiliki komitmen dan semangat tinggi dalam bermusik, saya sudah menjadi musisi. Bukan dilihat dari sukses tidaknya, tetapi menjadi orang seperti yang saya inginkan. To be what I always wanted to be.
Kepercayaan diri yang rendah adalah titik permasalahan terbesar saya hingga saat ini. Dengan cuek saya terlalu naif berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja, namun jauh dalam tindakan nyatanya selalu ada bayang-bayang pesimistis. Poin inilah yang sekarang jadi pe-er saya. Karena meskipun pada akhirnya mungkin tidak menggeluti kancah musik, semua bidang juga memerlukan kepercayaan diri yang baik. Nyokap pernah bilang, " Bukannya Ibu nggak mau kamu jadi seniman. Tapi pikir aja, kalau kamu sendiri tidak punya keperayaan diri dan keyakinan terhadap hasil karyamu, gimana kamu bisa buat orang lain percaya? "
Kata-kata beliau seakan menampar muka saya terlampau keras. Itu benar. Jadi sebab itulah mengapa saya berada di psikologi sekarang seperti anjuran kedua orangtua saya. Bukannya saya benci atau tidak menyukai psikologi. Suka kok. Tapi bukan ini hal yang ingin saya pikirkan setiap hari, apalagi untuk diperjuangkan. Bukan, bukan ini.
Bagaimana saya bisa menjadi seorang psikolog yang baik jika saya sendiri tidak bisa menyelesaikan masalah saya sendiri. Ironis. Belajar mendengarkan orang lain? Saya lebih suka bertindak sebagai pembicara, bukan pendengar. Kasian amat orang yang nanti saya konseling. Saya tidak mau jadi orang yang bekerja hanya untuk mencari uang. Saya ingin lebih. Saya harus jadi 'ORANG YANG SAYA INGINKAN'.
Sementara ini saya bersabar, berkutat dalam kenyataan. Tugas dan pelajaran yang mulai berat pada tahun kedua ini semakin membuat saya berpikir terus untuk mendekati impian menjadi musisi. Bingung. Terjebak. Ingin keluar, tetapi tidak tahu kemana dan bagaimana untuk memulai.
YASUDAH
Jalanin aja ini dulu. Berharap impian saya akan jadi kenyataan.
Semoga ada pencerahan. Hingga saat itu tiba, bolehkah saya terus berharap?
Evening
Kamis, 22 Agustus 2013
MUKA
MUKA
Saya
mudah melupakan nama,
namun
saya mengingat muka
Muka
tak bersuara yang memancarkan makna
Muka
dapat bercerita
Berkaca
dari sesama
Menyiratkan
suka, luka bertatap duka
Saya
benci tatapan muka
Kalian
semua melihat muka
Muka
bukan sekedar muka,
ini
topeng penutup jiwa
Tapi
sayang,
Kau
hanya melihat muka
Dibanding
jiwa, rasa dan asa
PENGAMAT VS PERILAKU II
Kembali topik pada judul “Pengamat VS Pelaku”
Kenapa
sejak awal saya menulis judul tersebut?
Saya
menyadari adanya fenomena yang terus terjadi dalam kehidupan kita. Ada 2 tipe
manusia, yaitu sebagai pengamat dan pelaku.
Tipe
pengamat adalah orang-orang yang cenderung mengamati, memilih untuk tidak
terlibat langsung dan berada di balik layar saja. Bukan berarti orang tipe ini
tidak memberikan kontribusi apapun. Orang seperti ini juga memberikan
kontribusi yang besar, namun ia tidak ingin ‘terlihat’ oleh orang lain.
Tipe
pelaku adalah orang-orang yang terlibat langsung dalam berbagai aspek kehidupan
dalam dirinya. Ia ingin ‘diketahui’ atau ‘terjun langsung’ dalam tindakan yang
dilakukan. Seringkali muncul steteotype
pada orang tipe ini yang diidentikan dengan orang yang senang “cari muka”.
Tidak semua orang bertipe pelaku bertujuan untuk seperti itu kok.
Sekarang
ini termasuk tipe apakah anda?
Sejak
kecil saya termasuk ke dalam kategori tipe pengamat. Orangtua saya sering
mempertanyakan keluhan ini kepada saya, mengingat di “jaman baheula” mereka
adalah para aktivis. Memang pada dasarnya saya tidak suka terlalu ‘terlihat’,
terkadang being invisible itulah yang
menyelamatkan saya. Pernah sempet kesel juga disaat kurang dihargai. Mungkin
penampilan serampangan saya turut memberi sumbangsih atas kurangnya
“penghargaan” terhadap diri saya.
Seiring
berjalannya waktu menuju kedewasaan ini,
tersadarkan rasanya ingin berubah dari tipe pengamat menuju ke tipe
pelaku. Mengapa?
Karena
dalam era sekarang, tidak cukup hanya
menjadi pengamat. Kita juga harus dapat menampilkan image menarik dalam diri kita. Sehingga dapat menarik perhatian
bagi pelaku-pelaku lain diluar sana. Maka akan tercipta pusaran arus pelaku ke
pelaku yang menjadikan perubahan. Jika hanya berdiam dan menjadi pengamat maka
kita akan menjadi follower yang tidak
menutup kemungkinan akan terinjak-injak oleh para pelaku. Pikirkan, bagaimana
masa depan kalian jika hanya bergerak sebagai pengamat saja? Manusia jaman
sekarang sudah memulai budaya “kanibalisme” lagi men! Lu liat aja saling
serang, memfitnah, zinah, membunuh mengindikasikan moralitas yang sudah semakin
tergerus. Probabilitas kita untuk terkena arus “kanibalisme” besar banget. So
stay alive and be strong guys!
Mengenai
band Indies yang tadi saya singgung diatas, banyak hal dapat dipelajari dan
diaplikasian dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan kelima pattern tersebut akan memudahkan kita
untuk membangun diri.
Nih
penjelasan dari kelima pattern tersebut.
1. Memiliki
ciri khas
Kekhasan
ini mudah sekali terlihat dalam diri artis Independen. Mulai dari style, musik, personality, body language mereka dan lainnya yang membentuk image mereka. Aspek-aspek tersebut
mereka jadikan kekuatan dan kelebihan yang dapat menarik perhatian orang lain.
Sejatinya
bagi diri kita sendiri, tolong kawan! Jangan hilangkan ciri khas anda! Justru
dengan memperteguh hal tersebut akan dapat menyadarkan jati diri sesungguhnya yang selama ini terpendam.
2. Totalitas
Aspek
ini merupakan satu hal yang paling saya sukai. Mengambil contoh dari White
Shoes & The Couples Company misalnya. Band ini mengusung tema back to 80’s
sehingga ciri khas mereka juga mencerminkan zona 80’an. Totalitas ini terlihat
dari musik mereka serta penampilan mereka secara keseluruhan. Sang vokalis
sendiri, Sari pintar menyesuaikan warna suara serta keluwesan dalam performance yang sangat
merepresentasikan zona 80.
Semangat
totalitas dalam berkarya bisa kita contoh dalam melakukan tindakan apapun yang
akan kita ambil. Generasi muda jaman sekarang sering melupakan ‘totalitas’ dan
cenderung untuk mengambil kepraktisan dengan bantuan teknologi. Maka dari itu, gue mengajak lo semua untuk
mulai bertotalitas. Trust me, it’s worth
it.
3. Kerja
keras dan mau bertanggung jawab
Kerja
keras dan bertanggung jawab adalah dua etos kerja yang sangat penting dalam
kehidupan. Kenapa? Karena tanpa keduanya tidak aka ada hasil yang maksimal
dalam melakukan suatu tindakan. Nyokap gue tuh sering banget ngomongin kedua
etos ini, beliau bilang hal itu fundamental banget kalau memang mau berhasil
dalam melakukan sesuatu.
4. Percaya
pada diri sendiri
Poin
ini yang paling gue salut dengan mereka. Tidak semua orang dapat menjadi
percaya diri. Jika percaya diri pun, belum tentu jika diposisikan sebagai
pelaku mereka akan percaya diri. Kebanyakan dari kita hanya percaya diri
sebagai pengamat, banyak berbicara tetapi tidak mencerminkannya dalam tindakan.
“Beraninya ngomong dibelakang doang”. Ya itulah ungkapan yang paling tepat.
Tetapi melihat artis-artis Independent, saya berikan acungan kedua jempol untuk
mereka. Mereka penuh dengan kepercayaan diri dalam menampilkan dan
mengembangkan musikalitasnya. Padahal kenyataannya aliran Indie dianggap ‘aneh’,
‘nyentrik’ atau ‘nyeleneh’. Namun itu bukan menjadi batu karang yang menghalagi
langkah mereka untuk tetap berkarya. Sebaliknya, mereka semakin percaya diri dan
membangun kekuatan mereka. Menjadikan perbedaan keunikan itu sebagai kekuatan
terbesar mereka. Disitulah banyak potensi berkembang.
Untuk
diri kita sendiri, kita dapat mencontohnya untuk bersandar pada kepercayaan dan
kekuatan diri sendiri. Justru ke-otentikan kitalah yang akan menjadikan diri semakin
matang dan ditulah kekuatan terbesar kita.
5. Independent
atau mandiri
Mandiri
disini bukan berarti mandi sendiri ya, tetapi kemandirian akan diri sendiri.
Bisa berdiri dengan kaki sendiri, mengandalkan diri sendiri dalam situasi
apapun dan bisa menghadapi tanpa butuh bantuan orang lain. Artis Independent
melakukan segalanya sendiri, mulai dari proses rekaman, video klip, promosi,
job/jadwal manggung, publikasi dan sebagainya sendiri. Bandingkan dengan artis
label kenamaan yang segalanya sudah dipersiapkan oleh pihak manajemen. Memang jadi
mandiri itu berat, gue udah ngalamin juga semenjak hidup sendiri di luar kota. Apalagi
awal-awal sangat tidak mudah. Rasanya pingin nyerah dan minta bantuan orang
lain.
Satu pesan dari gue:
" WHATEVER WORST POSSIBLY HAPPEN, IF YOU TIRED JUST
RELAX, BUT DON’T GIVE UP AND ENJOY IT!"
Sempet
ada masa-masa dimana gue lemah, mungkin itu titik terendah dalam diri gue.
Sering banget ngerasain yang namanya kesepian di dalem. Bukan karena suasana,
tapi di dalam diri lo rasanya sepi. Disaat itulah pula gue ngerasa mungkin
kemandiriian gue salah dan gue butuh orang lain.
Salah
mengartikaan kemandirian itu sendiri, saya
merasa terisolasi. Kemandirian itu berbeda dengan kesendirian.
Seringkali kita menyalahartikan hal ini. Jika mandiri, “Gue sendirian dong?”
Bukan
begitu, tetapi kemandirian itu justru berarti dapat menyelesaikan masalah kita
sendiri bahkan tanpa bantuan orang lain. Justru mengarah ke lebih positifnya,
kita juga dapat menyelesaikan masalah orang lain. Sebab masalah kita sendiri
sudah terselesaikan.
Mulailah
belajar mandiri walaupun itu tidak mudah.
Setelah
menyelesaikan tulisan ini, saya sedikit merefleksikan tulisan ini. Betapa
cerdasnya menyusun suatu dogma bagi orang lain, namun saya sendiri belum
benar-benar bisa mengaplikasikan ke dalam diri sendiri.
Buka
berarti gue bullshit belaka ya.
Justru karena gue lagi berusaha untuk berubah dan gw pingin banyak orang yang
juga menyadari hal tersebut.
Saya
sendiri sedang dalam masa penyadaran jati diri.
Jati
diri bukan dicari, tetapi disadarkan dan dikembangkan.
Emang
lo cari? Siapa? Itu diri lu sendiri kan, buat aapa dicari-cari? Hahaha
Semoga
curahan dari hasil pemikiran saya ini dapat berguna buat anda refleksikan
sendiri. Di saat inilah, masa muda kita. Disaat menuju kedewasaan, saat untuk
berubah dan memulai. Goodluck and enjoy your adventure!
Sabtu, 25 Mei 2013
PENGAMAT VS PELAKU
Pengamat VS Pelaku
Di
suatu siang yang dingin, di Surabaya jarang banget men siang hari dingin! gue
juga bingung sih antara harus sedih apa senang. Dikala udara dingin gini,
biasanya orang pada males diajak keluar. Padahal gua udah suntuk sama kuliah semingguan
ini, mengharapkan adanya hembusan udara segar di akhir pekan yang dapat
mencerahkan suasana hati, jiwa dan raga.
Pada
akhirnya, hal yang bisa dilakukan anak kos adalah mengurung diri di kamar lalu
melakukan kegiatan untuk memuaskan dirinya sendiri. Ada yang gemar movie marathon, nge-stalkerin bermacam social
media, browsing apapun, games dan sebangsanya, tidur (hibernasi
ala kamus temen gue), belajar (biasanya anak yang kelewat rajin, yang pasti
bukan gw), beresin kamar, bengong. Point terakhir itu bahaya banget sebenernya,
tapi entah apa yang kalian bayangin. Biasanya sih bayangin sang pujaan,
lama-kelamaan tersadar bahwa itu hanya khayal belaka.
Gue
yang stuck pada hari sabtu siang yang
dingin ini, memutuskan untuk pergi surfing.
Setelah melakukan beberapa kewajiban, terpikir untuk melirik beberapa band
Indie yang sudah lama saya kenal namun tidak terlalu saya follow-up. Beberapa membuat kejutan baru, yang ternyata telah
berekembang sangat pesat diluar dugaan dan memberi efek penyesalan karena telah
meninggalkan mereka. Sial.
Lihat
saja band seperti White Shoes & The Couples Company, The Float Project,
Sore, Pure Saturday dan Payung Teduh. Mereka memiliki bakat otentik, kekhasan identitas
musik yang tidak dimiliki oleh band lain. Keunikan inilah yang ditonjolkan
dalam aliran indie, tidak seperti band ataupun musisi label besar. Kendati
musik mereka anti-mainstream, cukup
banyak juga memiliki penikmat setia. Ternyata di Indonesia, ada juga pangsa
pasar tak tersentuh yang telah diisi kekosongannya oleh mereka. Whiches it’s great!
Beberapa
hari lalu saya memang lagi suka-sukanya bermesraan dengan band Indies yang sudah cukup lama tidak saya
peluk lagi. Dunia perkuliahan memberikan batas ruang gerak bagi saya untuk mencintai
bidang lain diluar psikologi. Mungkin juga saya yang terlalu fokus atau tidak
fokus. Ambigu.
Saya
dapat memetik beberapa pattern yang
sama dari semua band Indies tersebut, yaitu :
1. Memiliki
ciri khas
2. Totalitas
3. Kerja
keras dan mau bertanggung jawab
4. Percaya
pada diri sendiri
5. Independent
atau mandiri
Lalu
mari kita kembali topik pada judul “Pengamat VS Pelaku”
Kenapa
sejak awal saya menulis judul tersebut?
Lanjutannya menyusul di postingan berikutnya ya :)
Senin, 20 Mei 2013
Love, Love, Love
Mengapa ilham datang disaat orang bilang "Cause baby, it's too late to say a goodnight and too early too say a goodmorning".
Entahlah
Aku tak mengerti
Cinta
Siapa
Aku, kamu, dia?
Sembari si Arctic Monkeys mendendangkan lagu 505 milik mereka, saya mencoba untuk menulis postingan di blog ini. Baru tersadar, saya memang bego. Ternyata selama ini saya selalu mencintai seseorang yang tidak mencintai saya. Dan selalu, jika mengenai lelaki itu, saya berusaha untuk mencari tahu segalanya tentang dia. Bahkan hal teromantis yang pernah dilakukan hingga menulis lagu untuknya, merekamnya, lalu berharap suatu saat akan tiba moment dimana kebenaran itu akan terungkap.
Sebaliknya hal itu malah terjadi berulang-ulang seperti sebuah siklus kehidupan, dengan rumusannya :
Saya mencintai seseorang + Saya berusaha mencintai seseorang = Orang itu tidak mencintai saya
Sahabat saya berkata, mungkin memang itu belum jodoh saya. Tapi, HEY!!! Lantas kapankah kebahagiaan itu akan datang? Mungkinkah nasib berkutat pada rumusan diatas!?! Bak mengerjakan soal matematika nih ye, ada alternatif rumusan lainnya, antara lain :
1. Orang lain mencintai saya + Saya mencintai yang lain = Saya dan dia sama-sama tidak mendapat hati orang yang kita cintai
2. Saya mencintai seseorang + Dia mencintai saya = Tetap tidak bersatu
Mungkin memang saya kurang beruntung dalam hal percintaan. Atau memang belum waktunya, seperti ada pepatah "Right person, right place, right time and the right situation". Mungkin sekarang saya berada dalam zona WRONG AT EVERYTHING kali ya HAHAHAHA *berusaha menghibur diri.
Namun satu hal yang bisa saya banggakan dari diri saya dalam hal mencinta. Ya, saya selalu mencintai seseorang dengan tulus. Tidak memandang seberapa buruk dirinya di mata orang, kendati cerca dan dera menimpa, tetap menerima dirinya apa adanya. Sempat dulu dijauhin orang juga, hanya karna saya mencintai seseorang yang menurut orang lain *maaf tidak pantas untuk dicintai. Tidak ada yang dapat mengalahkan kelebihan saya di bidang itu. Dan totalitas mencintai itulah yang selalu saya pegang hingga sekarang. Sebaliknya, itu memunculkan kontradiksi ketika menuntut seseorang yang mencintai saya agar juga secara 'totalitas' mencintai saya.
Perlukah saya mencari solusi dalam memecahkan permasalahan cinta dalam hidup saya?
Ini juga gue lagi berusaha nyari
Dari sekian lelaki yang anda cintai apa persamaanya?
Sosok yang anti-mainstream, independent, suka The Beatles sama Arctic Monkeys. Kind of guy with a metaphor, that makes me curious plus confused. Janggal juga antara emang kebetulan apa sengaja ngincer yang hobinya sama. :D
Kesalahan yang selalu dilakukan?
Terlalu terburu-buru dan terobsesi dalam menjalin sebuah hubungan, mungkin itu yang bikin ngeri juga. Saya sendiri tidak dapat menghentikan kebiasaaan buruk ini.
Rencana ke depannya?
Tetep mencintai dengan tulus, walau itu tidak mudah. Semoga saja pada akhirnya akan menemukan lelaki yang bisa membuat rumusan baru :-) cheers
Well, I gotta sleep now bye!
Selasa, 23 April 2013
I'M BACKKKKKKK!!!!
Rasanya udah lama banget gue nggak nge-blog dan ngebuat postingan di social media manapun. Entah kenapa sekarang ini disaat gue lagi ngerjain tugas uts filsafat buat besok pagi malah kejadiannya pingin buka-buka blog lama. Membuka memori dan kenangan lama. Gue sempet stalkerin worpressnya ma frou, si Indah. Beberapa postingan lamanya menceritakan tentang gue. Ah, she's my very great friend!
Jadi berasa nyata 'eksistensialisme' gue karena ada dirinya. (sori kebawa pelajaran filsafat). And I'm really thankful for the presence of her in my life at any kind of situation. Kita udah 7 tahun temenan loh, sempet LDF (Long Distance Friendhips) juga. Dan kalo belom curhat sama doi tuh rasanya belom plong. Terimakasih atas kecanggihan teknologi, jarak seakan tak pernah memisahkan kita.
Membaca, merenungi dan membuka-buka postingan lama di berbagai ranah social media seakan mengajak saya untuk memikirkan sejenak tentang 'eksistensialisme' saya di dunia ini. Dan memang jujur saja, semenjak tahun 2013 ini fisik saya melemah, gampang penyakitan dan capek. Secara psikis, saya sering merasakan kekosongan dan kebosanan yang berlebihan entah mengapa. Saat membaca postingan doi tentang saya semasa SMA dan postingan wordpress saya sendiri, sungguh saya baru menyadari bahwa peristiwa-peristiwa itu sudah lampau terlewati. Saya kira itu baru kemarin. Mengingat wajah saya memang segini-segini aja nggak tambah tua :-D YEAYYYYY!!!! (fakta loh ini, bahkan kalo jalan sama ade gue, malah dikira gue yang adenya, actually we're 5 years different. And my sister sometimes get mad because of that HAHA).
Hidup itu cepet banget ya? nggak kerasa, di saat gue dulu harus melewati masa-masa sulit itu sendirian. dan sekarang gue udah nge-kos, jauh sama keluarga. Oiya sekarang gue udah semester 2 di Surabaya, Psikologi Unair. Jujur gue kangen sama kehidupan gw di Jakarta. Kangen sama keluarga, rumah gue, anjing gue. Temen-temen setia gue (MISS YOU GUYS REALLYYYYY). Kangen sama kebiasaan yang udah gue lakuin disana. Mengingat gue sedari lahir pindah-pindah rumah dan kota, di Jakarta cukup lama yah 6 tahun. Mungkin begitu banyak sebagian besar udah memengaruhi pola pikir serta kepribadian. Btw, hey MUMOS STUDIO apakabar ya? kangen sama para kakak studio si Mas Broh, Kak Eddie dkk. I miss those guys so bad! kapan bisa nge-jamm bareng lagi huhu ;'(
HEH!!! TUGAS FILSAFAT LU NIN OMG *LEBAY
(Maaf buat yang baca kalo postingan gue nggak penting, gaya bahasanya jelek banget. Harap maklum udah setahun lebih nggak nge-post)
Oiya gue juga lagi galau sama masa depan gue. Masih berusaha mencari pencerahan. Heeemmm doakan ye semoga dapet pencerahan. Tapi gue sekarang lebih kuat dan tegar nih hehe. Masalah pacar sih masih dong. Masih single maksudnya hehe. Yah, nyaris sebenernya tapi ya mungkin emang guenya aja yang rese (?!?) atau gua juga nggak ngerti. Sudahlah GO WITH THE FLOW...
Entar gue lanjutin lagi ceritanya, get back tugas uts gue coy udah jam 3 (almost)
CIAO, see you
xoxo
Putri Anindita
Eh, visit my soundcloud https://soundcloud.com/putri-anindita
THANKYOU , LOVE YA !!!
Jadi berasa nyata 'eksistensialisme' gue karena ada dirinya. (sori kebawa pelajaran filsafat). And I'm really thankful for the presence of her in my life at any kind of situation. Kita udah 7 tahun temenan loh, sempet LDF (Long Distance Friendhips) juga. Dan kalo belom curhat sama doi tuh rasanya belom plong. Terimakasih atas kecanggihan teknologi, jarak seakan tak pernah memisahkan kita.
Membaca, merenungi dan membuka-buka postingan lama di berbagai ranah social media seakan mengajak saya untuk memikirkan sejenak tentang 'eksistensialisme' saya di dunia ini. Dan memang jujur saja, semenjak tahun 2013 ini fisik saya melemah, gampang penyakitan dan capek. Secara psikis, saya sering merasakan kekosongan dan kebosanan yang berlebihan entah mengapa. Saat membaca postingan doi tentang saya semasa SMA dan postingan wordpress saya sendiri, sungguh saya baru menyadari bahwa peristiwa-peristiwa itu sudah lampau terlewati. Saya kira itu baru kemarin. Mengingat wajah saya memang segini-segini aja nggak tambah tua :-D YEAYYYYY!!!! (fakta loh ini, bahkan kalo jalan sama ade gue, malah dikira gue yang adenya, actually we're 5 years different. And my sister sometimes get mad because of that HAHA).
Hidup itu cepet banget ya? nggak kerasa, di saat gue dulu harus melewati masa-masa sulit itu sendirian. dan sekarang gue udah nge-kos, jauh sama keluarga. Oiya sekarang gue udah semester 2 di Surabaya, Psikologi Unair. Jujur gue kangen sama kehidupan gw di Jakarta. Kangen sama keluarga, rumah gue, anjing gue. Temen-temen setia gue (MISS YOU GUYS REALLYYYYY). Kangen sama kebiasaan yang udah gue lakuin disana. Mengingat gue sedari lahir pindah-pindah rumah dan kota, di Jakarta cukup lama yah 6 tahun. Mungkin begitu banyak sebagian besar udah memengaruhi pola pikir serta kepribadian. Btw, hey MUMOS STUDIO apakabar ya? kangen sama para kakak studio si Mas Broh, Kak Eddie dkk. I miss those guys so bad! kapan bisa nge-jamm bareng lagi huhu ;'(
HEH!!! TUGAS FILSAFAT LU NIN OMG *LEBAY
(Maaf buat yang baca kalo postingan gue nggak penting, gaya bahasanya jelek banget. Harap maklum udah setahun lebih nggak nge-post)
Oiya gue juga lagi galau sama masa depan gue. Masih berusaha mencari pencerahan. Heeemmm doakan ye semoga dapet pencerahan. Tapi gue sekarang lebih kuat dan tegar nih hehe. Masalah pacar sih masih dong. Masih single maksudnya hehe. Yah, nyaris sebenernya tapi ya mungkin emang guenya aja yang rese (?!?) atau gua juga nggak ngerti. Sudahlah GO WITH THE FLOW...
Entar gue lanjutin lagi ceritanya, get back tugas uts gue coy udah jam 3 (almost)
CIAO, see you
xoxo
Putri Anindita
Eh, visit my soundcloud https://soundcloud.com/putri-anindita
THANKYOU , LOVE YA !!!
Langganan:
Postingan (Atom)